Tante Mengajari Cara Onani | Sex Terbaru
Situs BandarQ

Tante Mengajari Cara Onani

<center>

Cerita Mesum Tante Binal, Hot Tubuh Tante – Tante fatika dia adalah sahabat dari mamahku, aku sempat di momong dia sewaktu mamahku pergi ke luar negeri selama beberapa hari aku tante fatika tinggal di rumahku untuk menjagaku, waktu itu aku masih kelas SMP melihat tante fatika yang memiliki postur aduhai badannya tinggi, rambutnya pekak sebahu dan kulitnya bersih.

Masih muda kira kira waktu itu dia usianya 27 tahun, aku sangat senang dan setuju permintaan mamaku, tante fatika menyuruh untuk menemaniku, biasanya, tiap ada kesempatan aku suka memainkan kemaluanku sendirian. Tapi belum pernah sampai keluar, waktu itu aku masih belum mengerti apa-apa, cuma sebab rhardiya nikmat. Mengambil kesempatan rumah lagi kosong & Tante Fatika juga belum datang.

Cerita Seks Tante Mengajari Cara Onani

cerita mesum tante hot, sex tante binal, cerita ngentot tante sange, kisah dewasa tante tante, tante horny, tante sange, binalnya tante, orgasme tante, memek tante, lendir vagina tante

Setelah pulang sekolah, aku ke kamar tidurku sendirian memijit-mijit kemaluanku sembari menghayalkan tubuh Tante Fatika yang seksi. Kubayangkan seperti yang pernah kulihat di majalah porno dari sahabat-sahabatkuku di sekolah. Selagi asyiknya bermain sendirian tanpa kusadari Tante Fatika sudah tiba di rumahku & tiba-tiba membuka pintu kamarku yang lupa kukunci.

Dia sedikit tercengang waktu melihatku berbaring diatas ranjang telanjang bulat, sembari memegangi kemaluanku yang berdiri. Aduh malunya setengah mati, ketangkap basah lagi mainin burung. Segera kututupi kemaluanku dengan bantal, wajahku putih pucat.

Melihatku ketakutan, Tante Fatika cuma tersenyum & berkata”,Eh, kau sudah pulang sekolah Hardi., Tante juga baru saja datang”. aku tak berani menjawabnya.

“Tak usah takut & malu sama Tante, itu hal biasa untuk anak-anak mainin burungnya sendiri” ujarnya. aku tetap tak berani berkutik dari tempat tidur sebab sangat malu.

Tante Fatika lalu menambah, “Kau terusin saja mainnya, Tante cuma mau membersihkan kamar kau saja, kok”.

“Tak apa-apa kan kalau Tante turut melihat permainanmu”, sembari melirik menggoda, ia kembali berkata “Kalau kau mau, Tante bisa tolongin kamu, Tante mengerti kok dengan permainanmu, Hardi.”, tambahnya sembari mendekatiku.

“Tapi kau tak boleh bilang siapa-siapa yah, ini akan menjadi rahasia kita berdua saja”. aku tetap tak bisa menjawab apa-apa, cuma mengangguk kecil walaupun aku tak begitu mengerti apa maksudnya.

Tante Fatika pergi ke kamar mandi mengambil Baby Oil & segera kembali ke kamarku. Lalu ia berlutut di hadapanku. Bantalku diangkat perlahan-lahan, & saking takutnya kemaluanku segera mengecil & segera kututupi dengan kedua telapak tanganku.

“Kemari dong, kasih Tante lihat permainanmu, Tante janji akan berhati-hati deh”, katanya sembari membujukku. Tanganku dibuka & mata Tante Fatika mulai turun ke bawah kearah selangkanganku & memperhatikan kemaluanku yang mengecil dengan teliti.

Dengan perlahan-lahan ia memegang kemaluanku dengan kedua jarinya & menuruni kepalanya, dengan tangan yang satu lagi ia meneteskan Baby Oil itu di kepala kemaluanku, senyumnya tak pernah melepaskan wajahnya yang cantik.

“Tante pakein ini supaya rada licin, kau pasti suka deh” katanya sembari mengedipkan sebelah matanya.

Malunya setengah mati, belum ada orang yang pernah melihat kemaluanku, apa lagi memegangnya. Hatiku berdebar dengan kencang & wajahku merah sebab malu. Tapi sentuhan tangannya terasa halus & hangat.

“Jangan takut Hardi., kau rebahan saja”, ujarnya membujukku. Setelah sedikit tenang mendengar suaranya yang halus & memastikan, aku mulai bisa menikmati elusan tangannya yang lembut. Tangannya sangat mahir memainkan kemaluanku, tiap sentuhannya membuat kemaluanku bergetar dengan kenikmatan & jauh lebih nikmat dari sentuhan tanganku sendiri.

“Lihat itu sudah mulai membesar kembali”, kemudian Tante Fatika melumuri Baby Oil itu ke seluruh batang kemaluanku yang mulai menegang & kedua bijinya. Kemudian Tante Fatika mulai mengocok kemaluanku digenggamannya perlahan-lahan sambil membuka lebar kedua pahaku & mengusap bijiku yang mulai panas membara.

Kemaluanku terasa kencang sekali, berdiri tegak seenaknya dihadapan muka Tante Fatika yang cantik. Perlahan Tante Fatika mendekati mukanya kearah selangkanganku, seperti sedang mempelajarinya. Terasa napasnya yang hangat berhembus di paha & di bijiku dengan halus.

Saya hampir tak bisa percaya, Tante Fatika yang baru saja kukhayalkan, sekarang sedang berjongkok diantara selangkanganku.

Setelah kira-kira lima menit kemudian, aku tak bisa menahan rasa geli dari godaan jari-jari tangannya. Pinggulku tak bisa berdiam tenang saja di ranjang & mulai mengikuti tiap irama kocokan tangan Tante Fatika yang licin & berminyak. Belum pernah aku merasa seperti begitu, semua kenikmatan duniawi ini seperti berpusat tepat ditengah-tengah selangkanganku.

Mendadak Tante Fatika kembali berkata, “Ini pasti kau sudah hampir keluar, dari pada nanti kotorin ranjang Tante hisap saja yah”.

Saya tak mengerti apa yang ia maksud. Dengan tiba-tiba Tante Fatika mengeluarkan lidahnya & menjilat kepala kemaluanku lalu menyusupinya perlahan ke dalam mulutnya.

Hampir saja aku melompat dari atas ranjang. Sebab bingung & kaget, aku tak tahu harus membikin apa, kecuali menekan pantatku keras ke dalam ranjang. Tangannya segera disusupkan ke bawah pinggulku & mengangkatnya dengan perlahan dari atas ranjang.

Kemaluanku terangkat tinggi seperti hendak diperagakan dihadapan mukanya. Kembali lidahnya menjilat kepala kemaluanku dengan halus, sembari menyedot ke dalam mulutnya. Bibirnya merah merekah tampak sangat seksi menutupi seluruh kemaluanku. Mulut & lidahnya terasa sangat hangat & basah.

Lidahnya dipermainkan dengan sangat mahir. Matanya tetap memandang mataku seperti untuk meyakinkanku. Tangannya kembali menggenggam kedua bijiku. Kepalanya tampak turun naik disepanjang kemaluanku, aku berasa geli setengah mati. Ini jauh lebih nikmat daripada memakai tangannya.

Sekali-sekali Tante Fatika juga menghisap kedua bijiku bergantian dengan gigitan-gigitan kecil. & perlahan turun ke bawah menjilat lubang pantatku & membuat lingkaran kecil dengan ujung lidahnya yang terasa sangat liar & hangat. aku cuma bisa berpegangan erat ke bantalku, sembari mencoba menahan rintihanku.

Kudekap mukaku dengan bantal, tiap sedotan kurasa seperti yang aku hendak menjerit. Napasku tak bisa diatur lagi, pinggulku menegang, kepala aku mulai pening dari kenikmatan yang berkonsentrasi tepat diantara selangkanganku. Mendadak kurasa kemaluanku seperti akan meledak. Sebab rasa takut & panik, kutarik pinggulku kebelakang. Dengan seketika, kemaluanku seperti mempunyai hidup sendiri, berdenyut & menyemprot cairan putih yang lengket & hangat ke muka & ke rambut Tante Fatika.

Seluruh badanku bergetar dari kenikmatan yang tak pernah kualami sebelumnya. aku tak sanggup untuk menahan kejadian ini. aku merasa telah berbuat sesuatu kesalahan yang sangat besar. Dengan napas yang terengah-engah, aku meminta maaf kepada Tante Fatika atas kejadian tersebut & tak berani untuk menatap wajahnya.

Tetapi Tante Fatika cuma tersenyum lebar, & berkata “Tak apa-apa kok, ini memang harus begini”, kembali ia menjilati cairan lengket itu yang mulai meleleh dari ujung bibirnya & kembali menjilati semua sisa cairan itu dari kemaluanku sehingga bersih.

“Tante suka kok, rhardiya sedap”, tambahnya.

Dengan penuh pengertian Tante Fatika menerangkan bahwa cairan itu adalah air mani & itu wajar untuk dikeluarkan sekali-sekali. Kemudian dengan penuh kehalusan ia membersihkanku dengan handuk kecil basah & menciumku dengan lembut dikeningku.

Setelah semuanya mulai mereda, dengan malu-malu aku bertanya, “Apakah perempuan juga melakukan hal seperti ini?”.

Tante Fatika menjawab “Yah, kadang-kadang kita orang perempuan juga melakukan itu, tapi caranya agak berbeda”. & Tante Fatika berkata yang kalau aku mau, ia bisa menunjukkannya. Tentu saja aku bilang yang aku mau menyaksikannya.

Kemudian jari-jari tangan Tante Fatika yang lentik dengan perlahan mulai membuka kancing-kancing bajunya, memperagakan tubuhnya yang putih. Waktu kutangnya dibuka buah dadanya melejit keluar & tampak besar membusung dibandingkan dengan perutnya yang mengecil ramping. Kedua buah dadanya bergelayutan & bergoyang dengan indah.

Dengan halus Tante Fatika memegang kedua tanganku & meletakannya di atas buah dadanya. Rhardiya empuk, kejal & halus sekali, ujungnya agak keras. Putingnya warna coklat tua & agak besar. Tante Fatika memintaku untuk menyentuhnya. Sebab belum ada pengalaman apa-apa, aku pencet saja dengan kasar.

Tante Fatika kembali tersenyum & mengajariku untuk mengelusnya perlahan-lahan. Putingnya agak sensitif, jadi kita harus lebih perlahan disana, katanya. Tanganku mulai meraba tubuh Tante Fatika yang putih bersih itu. Kulitnya terasa sangat halus & panas membara dibawah telapak tanganku. Napasnya memburu tiap kusentuh bagian yang tertentu. aku mulai mempelajari tempat-tempat yang disukainya.

Tak lama kemudian Tante Fatika memintaku untuk menciumi tubuhnya. Ketika aku mulai menghisap & menjilat kedua buah dadanya, putingnya terasa mengeras di dalam mulutku. Napasnya semakin menderu-deru, membuat buah dadanya turun naik bergoyang dengan irama.

Lidahku mulai menjilati seluruh buah dadanya sampai keduanya berkilat dengan air liurku mukanya tampak gemilang dengan penuh gairah. Bibirnya yang merah merekah digigit seperti sedang menahan sakit. Roknya yang seksi & ketat mulai tersibak & kedua lututnya mulai melebar perlahan. Pacuma yang putih seperti susu mulai terbuka menantang dengan gairah di hadapanku.

Tante Fatika tak berhenti mengelus & memeluki tubuhku yang masih telanjang dengan kencang. Tangannya menuntun kepalaku ke bawah kearah perutnya. Semakin ke bawah ciumanku, semakin terbuka kedua pahanya, roknya tergulung ke atas.

Saya mulai bisa melihat pangkal paha atasnya & terlihat sedikit bulu yang hitam halus mengintip dari celah celana dalamnya. Mataku tak bisa melepaskan pemandangan yang sangat indah itu.

Kemudian Tante Fatika berdiri tegak di hadapanku dengan perlahan Tante Fatika mulai membuka kancing roknya satu persatu & membiarkan roknya terjatuh di lantai. Tante Fatika berdiri di hadapanku seperti seorang putri khayalan dengan cuma memakai celana dalamnya yang putih, kecil, tipis & seksi.

Tangannya ditaruh di pingulnya yang putih & tampak serasi dengan kedua buah dadanya diperagakannya di hadapanku. Pantatnya yang cuma sedikit tertutup dengan celana dalam seksi itu bercuat menungging ke belakang.

Tak kusangka yang seorang wanita bisa terlihat begitu indah & menggiurkan. aku sangat terpesona memandang wajah & keindahan tubuhnya yang bercahaya & penuh gairah.

Tante Fatika menerangkan yang bagian tubuh bawahnya juga harus dimainkan. Sambil merebahkan dirinya di ranjangku, Tante Fatika memintaku untuk menikmati bagiannya yang terlarang. aku mulai meraba-raba pacuma yang putih & celana dalamnya yang agak lembab & bernoda.

Pertama-tama tanganku agak bergemetar, basah dari keringat dingin, tetapi melihat Tante Fatika sungguh-sungguh menikmati semua perbuatanku & matanya juga mulai menutup sayu, napasnya semakin mengencang. aku semakin berani & lancang merabanya. Kadang-kadang jariku kususupkan ke dalam celana dalamnya menyentuh bulunya yang lembut.

Celana dalamnya semakin membasah, noda di bawah celana dalamnya semakin membesar. Pingulnya terangkat tinggi dari atas ranjang. Kedua pacuma semakin melebar & kemaluannya tercetak jelas dari celana dalamnya yang sangat tipis itu.

Setelah beberapa lama, Tante Fatika dengan merintih memintaku untuk membuka celana dalamnya. Pinggulnya diangkat sedikit supaya aku bisa menurunkan celana dalamnya ke bawah. Tante Fatika berbaring di atas ranjang tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya.

Disitu untuk pertama kali aku bisa menyaksikan kemaluan seorang wanita dari jarak yang dekat & bukan cuma dari majalah. Bulu-bulu di atas kemaluannya itu tampak hitam lembut, tumbuh dengan halus & rapi dicukur, sekitar kemaluannya telah dicukur hingga bersih membuat lekuk kemaluannya tampak dari depan.

Tante Fatika membuka selangkangannya dengan lebar & menyodorkan kewanitaannya kepadaku tanpa sedikit rasa malu. Sembari bangkit duduk di tepi ranjang, Tante Fatika memintaku untuk berjongkok diantara kedua pacuma untuk memperhatikan memek nya dari jarak dekat.

Dengan penuh gairah kedua jarinya mengungkap bibir kemaluannya yang rada tebal & kehitam-hitaman & memperagakan kepadaku lubang memeknya yang basah & berwarna merah muda.

Dengan nada yang ramah, Tante Fatika menggunakan jari tangannya sendiri dengan halus, menerangkan kepadaku satu persatu seluruh bagian tubuh bawahnya. Tempat-tempat & cara-caranya untuk menyenangkan seorang wanita.

Kemudian Tante Fatika mulai menggunakan jari tanganku untuk diraba-rabakan kebagian tubuh bawahnya. Rhardiya sangat hangat, lengket & basah. Clitorisnya semakin membesar ketika aku menyentuhnya. Aroma dari memeknya mulai memenuhi udara di kamarku, aromanya menyenangkan & berbau bersih.

Dari dalam lubang memeknya perlahan-lahan keluar cairan lengket berwarna putih & kental & mulai melumuri semua permukaan lubang memeknya. Mengingat apa yang ia sudah lakukan dengan air maniku, aku kembali bertanya “Boleh nggak aku mencicipi air mani Tante?” Tante Fatika cuma mengangguk kecil & tersenyum.

Perlahan aku mulai menjilati pacuma yang putih & sekitar lubang memek Tante Fatika yang merah & lembut. Cairannya mulai mengalir keluar dengan deras ke selangkangannya. Lidahku menangkap tetesan itu & mengikuti aliran cairan itu sampai balik ke asal lubangnya. Rhardiya agak keasinan dengan berbau sangat khas, tak seperti kata orang, cairan Tante Fatika sangat bersih & tak berbau amis.

Begitu pertama aku mencicipi alat kelamin Tante Fatika, aku tahu yang aku bisa menjilatinya terus-menerus, sebab aku sangat menyukai rhardiya. Tante Fatika mendadak menjerit kecil ketika lidahku menyentuh clitorisnya. aku tersentak takut sebab mungkin aku telah membuatnya sakit. Tetapi Tante Fatika kembali menjelaskan bahwa itu hal biasa kalau seseorang mengerang waktu merasa nikmat.

Semakin lama, aku semakin berani untuk menjilati & menghisapi semua lubang memek & clitorisnya. Pinggulnya diangkat naik tinggi. Tangannya tak berhenti memeras buah dadanya sendiri, cengkramannya semakin menguat. Napasnya sudah tak beraturan lagi. Kepalanya terbanting ke kanan & ke kiri.

Pinggul & pacuma kadang-kadang mengejang kuat, berputar dengan liar. Kepalaku terkadang tergoncang keras oleh dorongan dari kedua pahanya. Tangannya mulai menjambak rambutku & menekan kepalaku erat kearah selangkangannya. Dari bibirnya yang mungil itu keluar desah & rintihan memanggil namaku, seperti irama di telingaku.

Keringatnya mulai keluar dari tiap pori-pori tubuhnya membuat kulitnya tampak bergemilang di bawah cahaya lampu. Matanya sudah tak memandangku lagi, tapi tertutup rapat oleh bulu mata yang panjang & lentik.

Sembari merintih Tante Fatika memintaku untuk menyodok-nyodokkan lidahku ke dalam lubang memeknya & mempercepat iramaku. Seluruh mukaku basah tertutup oleh cairan yang bergairah itu.

Kemudian Tante Fatika memintaku untuk berbalik supaya ia juga bisa menghisap kemaluanku bersamaan. Setelah melumuri kedua buah dadanya yang busung itu dengan Baby Oil, Tante Fatika menggosok-gosokkan & menghimpit kemaluanku yang sudah keras kembali diantara buah dadanya, & menghisapinya bergantian.

Kemudian Tante Fatika memintaku untuk lebih berkonsentrasi di clitorisnya & menyarankanku untuk memasuki jariku ke lubang memeknya. Dengan penuh gairah aku pertama kalinya merasakan bahwa kelamin wanita itu bisa berasa begitu panas & basah. Otot memeknya yang terlatih terasa memijiti jari tanganku perlahan.

Bibir & lubang memeknya tampak merekah, berkilat & semakin memerah. Clitorisnya bercahaya & membesar seperti ingin meledak. Setelah tak beberapa lama, Tante Fatika memintaku untuk memasukkan satu jariku ke dalam lubang pantatnya yang ketat. Dengan bersamaan, Tante Fatika juga masukkan satu jarinya pula ke dalam lubang pantatku.

Tangannya dipercepat mengocok kemaluanku. Pacuma mendekap kepalaku dengan keras. Pinggulnya mengejang keras. Terasa dilidahku urat-urat sekitar dinding memeknya berkontraksi keras ketika ia keluar. aku menjerit keras bersama-sama Tante Fatika sembari memeluknya dengan erat, kita berdua keluar hampir bersamaan. Kali ini Tante Fatika menghisap habis semua air maniku & terus menghisapi kemaluanku sampai kering.

Setelah itu kita berbaring telanjang terengah mengambil napas. Badannya yang berkeringat & melemah, terasa sangat hangat memeluki tubuhku dari belakang, tangannya tetap menghangati & mengenggam kemaluanku yang mengecil. Aroma dari yang baru saja kita lakukan masih tetap memenuhi udara kamarku.

Wajahnya tampak gemilang bercahaya menunjukan kepuhardi, senyumnya kembali menghiasi wajahnya yang terlihat lelah. Lalu kita jatuh tertidur berduaan dengan angin yang sejuk meniup dari jendela yang terbuka. Setelah bangun tidur, kita mandi bersama.

Waktu berpakaian Tante Fatika mencium bibirku dengan lembut & berjanji yang nanti malam ia akan mengajari bagaimana caranya bila kejantananku dimasukkan ke dalam kewanitaannya.

Cerita Sex Terbaru Tante Mesum :

Sejak hari itu, selama satu minggu penuh, tiap malam aku tidur di kamar tamu bersama Tante Fatika & mendapat pelajaran yang baru tiap malam. Tetapi setelah kejadian itu, kita tak pernah mendapat kesempatan kembali untuk melanjutkan hubungan kami.

Cuma ada peristiwa sekali, waktu orangtuaku mengadakan pesta di rumah, Tante Fatika datang bersama suaminya. Di dapur, waktu tak ada orang lain yang melihat, Tante Fatika mencium pipiku sembari meraba kemaluanku, tersenyum & berbisik “Jangan lupa dengan rahasia kita Hardi.”

Dua bulan kemudian Tante Fatika pindah ke kota lain bersama suaminya. Sampai hari ini aku tak akan bisa melupakan satu minggu yang terbaik itu di dalam sejarah hidupku. & aku merasa sangat beruntung untuk mendapat seseorang yang bisa mengajariku bersetubuh dengan cara yang sangat sabar, sangat profesional & semanis Tante Fatika. Sekian Cerita Dewasa Tante Tante Kesepian

<center>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*