Klitorisku di Hisap Sampai Lemas | Sex Terbaru
Situs BandarQ

Klitorisku di Hisap Sampai Lemas

<center>

Dipeluknya tubuhku seperti berabad-abad tak berjumpa. Huh.. sure miss me, tetapi ia nikahin juga sialan itu dan dibikin hamil lagi! Sialan. saya benci bener sama makhluk ini. Tetapi mau nggak mau kubalas juga pelukannya sambil mengelus-elus punggungnya.

Laki-laki sialan yang pernah kuanggap sahabat, yang ngotot we should be lovers.. eeh, saya udah pura-pura mau.. ia malah nikahin tunangan begonya yang sama-sama Indonesian denganku. Pengkhianat!

cerita sex terbaru hot, cerita dewasa kentu, cerita mesum terbaru, cerita sex mesum 2018, cerita ngentot baru, cerita seks terkini, cerita mesum terhot, koleksi cerita mesum mesum cerita kumpulan cerita mesum bergambar galeri cerita mesum cerita mesum paling panas cerita mesum dan fotonya

cerita sex terbaru hot, cerita dewasa kentu, cerita mesum terbaru, cerita sex mesum 2018, cerita ngentot baru, cerita seks terkini, cerita mesum terhot, koleksi cerita mesum mesum cerita kumpulan cerita mesum bergambar galeri cerita mesum cerita mesum paling panas cerita mesum dan fotonya

Usiaku 28 tahun, menetap di Inggris dan bekerja di sebuah rumah sakit setempat. Wajahku biasa saja, tetapi kupikir proporsi tubuhku lumayan sebab dua kali seminggu saya mengajar senam di sebuah gym di desa kami, dan sesekali saya juga mengajarkan body language pada teman-teman sesama asian.

Jika sama bule belum berani sebab walau mereka tertarik, tetapi di sini body language belum dikenal. Kulitku sawo matang, ukuran dada 34A. Di sini teman-teman menyebutku petite. Dan tambah terlihat petite sebab rambutku pendek lebih pendek dari model Demi Moore tahun 90-an.

Saya lumayan tertutup dengan pria.. sebab sepertinya kebanyakan either jahat, atau pengennya seks mulu. Jika disuruh milih malah saya lebih suka menikmati pemandangan perempuan cantik lewat daripada pria yang makin cakep makin brengsek.

Apalagi usia belasan saya berkenalan dengan Duncan, yang lumayan tertutup dengan wanita, dengan alasan yang sama. Awal pertemanan kami penuh dengan hina-menghina. Saking bencinya dengan lawan jenis.

Tetapi akhirnya kami malah berteman dekat sekali.. orangtua dan keluarganya sama sekali ngga keberatan jika saya menginap di rumah mereka.. sekamar dengan Duncan, apalagi pintu kamar sering kuminta terbuka supaya jika ortunya lewat, keliatan kami Cuma main video game, waktu itu musim Mortal Combat, sampe malem ribut2.. juga dengan saudara kembarnya.. sampai malah Ibunya yang bakal tutup pintu.. katanya brisik.

Singkatnya dua tahun yang lalu Duncan ngajak pacaran.. berhubung toh ngga minta seks.. saya mau-mau aja.. biar ia seneng.. Lalu setahun yang lalu ia liburan ke Indonesia, saya ngga bisa ikut nemenin. Dua bulan kemudian ia pulang, dan akhirnya cerita he met an Indonesian girl usia 4 years younger than us. ia juga bilang they had sex and she was a virgin makanya mereka tunangan, ia janji akan nikahin si brengsek.

Ya bullshit! Bagiku mana ada lagi cewe usia 23 tahun berani ngajak bule nyasar have sex kalo ngga dasar murahan, kampungan dll dll. saya marah sekali, marahnya kok masih ada aja perempuan sebangsaku yang ngga ada harga diri! Sejak itu ia ngga pernah nyebut cewe brengsek itu.

Hubungan kami berlangsung biasa, walau keluarga dan temennya sering heran, ia udah tunangan kok masih terus jalan denganku. Bagiku, tunangan kek apa kek tetep he’s mine and stayed mine. Waktu akhirnya ia menikah di Indonesia dan membawa istrinya ke sini, saya tau istrinya ngga bakal suka dengan kehadiranku sebab ia pernah melarang Duncan tetap bersahabat denganku, tetapi tetep aja saya dateng ke rumahnya sebulan setelah ia pulang dengan alasan: bawain makanan Indonesia untuk istrinya yang katanya sedang ngidam.

Kebetulan si brengsek lagi dibawa belanja oleh seisi rumah kecuali Duncan, yang saya tau jam-jam segini pasti baru pulang dari kerja. ia ngga bisa nolak waktu saya datang dan nyelonong aja masuk kamarnya.. kamar mereka.

Tangannya turun ke pinggangku, ngga bisa sampai bokong, ia terlalu tinggi atau saya yang terlalu pendek, 160 cm. Duncan atleast 180 cm. Sebelum empat bulan yang lalu ia berkerja lumayan physical selama dua tahun installing securities stuffs sambil kuliah, jadi badannya bukan hanya tinggi, tetapi well built.

Terakhir kami bertemu, sebelum ia berangkat menikahi si nyebelin di Indonesia, jangankan pelukan begini.. megang punggungnya aja saya udah merasa seperti kesetrum canggung dan jika dipeluk juga saya leloncatan, mungkin sebab walau pacaran waktu itu saya diam-diam anggap ia sahabat.

Dia juga one of those bule pemalu.. auk kok dapetnya pemalu mulu? Tetapi kayaknya kali ini malunya hilang, mungkin karena sudah menikah dan kali istrinya yang lagi hamil muda itu males ngeladenin dia? Bego.

Mata birunya menatapku dalam-dalam lama-lama. Apa yang di pikirannya? Menebak pikiranku? Huh! “I’ve always missed you too while we’re apart. You never tried make any contact with me?”, taktik bego bikin guilty- if we’re not fooling each other anyway?

Kutarik wajahku ke belakang, makin belagak lugu, kuraba wajahnya pura-pura kangen. Pura-pura? I do miss him! Not like this though, I miss owning him! Dulu ia bener-bener milikku walau ia tunangan dengan si bego yang kemaruk dibawa ke LN itu. ia milikku. His time and heart used to be mine!

Wajahnya merunduk mendekat membuatku otomatsis memejamkan mata, terasa lembut bener bibirnya mencium dahiku. Friendly kisses. Kutengadahkan wajahku, mengundangnya mencium bibirku. Pelan-pelan bibirnya bergerak ke bibirku, tangannya terasa dingin di tengkukku. Kuraba tepi wajahnya sambil kubuka bibirku.

Tangannya terasa makin kuat mencengkeram tengkukku, satu lagi di punggung menarikku semakin dekat dan bibirnya juga membuka, lidahnya terasa menyelusup masuk ke mulutku, pelan-pelan, seperti ragu. Ragu? Kutarik kepalanya semakin merapat, lidahku berpindah dari bawah lidahnya naik ke atas lidahnya, meraba langit-langit dan akhirnya turun menjilati lidahnya.

Rasanya seperti kesetrum jika ga Cuma nyungsep-nyungsep sembunyi di bawah seperti yang biasa kulakukan jika saya ngga yakin dengan seseorang. Sepertinya ia juga merasa begitu, sebab kudengar ia sedikit mengerang, bibirnya semakin lekat di bibirku dan lidahnya makin berani menjilati dan menekan lidahku. Adduh! Jika begini sebodo sahabat! Rangsangannya sampai ke memekku. Rasanya seperti berdenyut-denyut kecil, nikmat tetapi bener-bener needing more..

“Adduh.. Duncan..”,

Tiba-tiba ciumannya berhenti. “, Aduh?”, Sialan.. saya kok bahasa Indonesia? Ntar bikin ia inget istrinya lagi.

“Yes, adduh. You make me feel..”, kutarik lagi wajahnya dan kami kembali berciuman.

Dia? Kali rindu someone he used to love. Aku? Auk, bener-bener horny. Siapa yang mbodohin siapa ya? Rasanya bener-bener ini ga cukup, tanganku mulai meraba dadanya.. ni orang tegep bener. Jemariku masuk dari balik kausnya, kulitnya hangat, ototnya otot beneran, dan terasa hangat, tangan kananku bergerak meraba lebih jauh.. terasa jantungnya berdegup kuat. Kausnya berantakan tertarik ke atas ngga keruan sebab tanganku bergerilya.

Masih sambil menciumku kedua tangannya melepas diriku dan mencoba membuka kausnya. Kutarik wajahku menjauh supaya ia bisa membuka kausnya. Gak kubiarkan lama, kuciumi dadanya, perutnya, sambil ia sibuk membuka jeansnya dan boxer shortnya.. kujilati persis dibawah pusarnya.. perutnya rata, sedikit berbulu rada blonde tetapi halus dan lebih gelap.

“Oh, Mel..”, ia mendesah-desah waktu saya berlutut bergerak menciumi tubuhnya, menjilatinya semakin ke bawah. Sengaja ngga ke kontolnya dulu sebab I needed time to think, iya ngga ya..? Sambil juga kulitnya terasa enak sekali. Sedikit-sedikit kugigit dan kuhisap daerah bawah pusarnya. Tanganku merabai bagian dalam pahanya.

“Mel.. Mel..”, ia membungkuk sedikit melihatku waktu saya melihat ke atas sambil menjulurkan lidah semakin dekat ke kontolnya. Jari-jarinya merabai rambutku.. Sambil masih saling menatap kurabai skrotumnya, terasa agak keras tetapi kulitnya lembut.. halus.. kuliat ia menggigit bibir bawahnya menatapku tak berkedip.

Dengan tangan kanan kuraba batang kontolnya yang terasa hangat sekali.. dan keras.. kuraba semakin kuat dan akhirnya kupegang dan kugerakkan tanganku sedikit naik turun. Matanya memejam serius, kepalanya agak terdongak kali ini. saya pun mengalihkan pandangan ke kontolnya, dari tadi saya cenderung keeping eye contact.

Kontolnya lumayan besar bagiku yang memang lebih terbiasa dengan pria kaukasia. Mungkin Cuma 7 inch lebih dikit, tetapi diameternya sedikit nyeremin.. Seumur-umur 28 tahun, baru sekali saya ngeliat milik cowo asian.

Kupikir sampai sekarang saya masih lumayan impressed, walau jauh lebih kecil tetapi kupikir lebih impressive, setaknya that one person. Tetapi Duncan’s juga menarik banget.. rapih, mungkin sebab disunat secara medis.

Kontolnya sudah ereksi penuh kurasa.. kugenggam kontolnya semakin kuat.. dan kugerakkan tanganku naik turun, sambil tanganku satu lagi meraba paha bagian dalamnya.. kudongakkan wajahku mencuri pandang ke atas.. ia kembali menontoniku.. masih sambil berpandangan kujilat sedikit ujung kontolnya.. terasa cairan agak kental yang keluar dari ujungnya, kujilati sampai habis.

Wajahnya memerah, lidahku semakin berani menjilati leher kontolnya.. wajahnya kembali terdongak dan matanya mungkin memejam.. ngga keliatan.. ngga terasa mataku juga terpejam.. sebodo cerita-cerita dan film-film bego, saya bener-bener menikmati miliknya.. kuemut bagian kontolnya yang bisa masuk ke mulutku. Kuhisap dan benar-benar kunikmati, kujilati lingkaran leher kontolnya, lalu di bagian bawah lehernya yang kudengar dan kelihatannya memang salah satu daerah paling sensitif.

Belon pernah saya oral cowok dan ngga suka dijilatin dan digelitik di daerah yang satu ini. Dan memang kudengar ia lebih ribut sewaktu lidahku sibuk di daerah itu. Kulepaskan tanganku menumpu di bagian bawah kontolnya hingga berdiri lebih tegak. Kumasukkan kepalanya ke mulutku, kukeluar-masukkan lambat-lambat sambil kuhisap dan kujilati di dalam lekat-lekat.

“Mel, oh.. Mel..”, kudengar ia mengerang dan terasa pinggulnya bergerak ke depan mendorongkan kontolnya semakin dalam ke mulutku, maju mundur.

Kuletakkan pelan tanganku ke pangkal pahanya, kontolnya yang sudah tegak sendiri semakin dalam keluar masuk di mulutku, sambil kugerakkan juga wajahku dan semakin dalam kumasukkan dalam mulutku.

Tiba-tiba terasa kedua tangannya mencengkram rambutku yang pendek sekali, menahan kepalaku, panggulnya bergerak keluar masuk lebih cepat, kontolnya hampir membuatku tersedak.. kupikir ia nyaris sampai.. tau-tau kontolnya ditarik keluar dari mulutku, dengan dua tangan di bawah ketiakku tubuhku ditariknya berdiri, diciuminya bibirku terburu-buru sampai nafasnya terdengar sekali.

Agak kasar, tetapi saya malah suka. Kupejamkan mataku dan kuhisap lidahnya dalam mulutku.. ngga terasa saya mengerang agak kuat dan mendadak ia berhenti.. saya tau, ia takut kedengaran keluarganya di luar kalau-jika sudah kembali dari belanja.

Dari tadi saya masih berpakaian lengkap, hanya jaketku kutinggalkan di ruang tamu. Matanya terlihat ragu walau nafasnya jelas masih keliatan naik-turun. Kurapatkan tubuhku, tetapi sambil kubuka kancing kemejaku terburu-buru. Feel so horny, not gonna let him change his mind. Toketku biasa sekali, 34A, tetapi bra putih yang kukenakan menaikkan toketku sedemikian rupa, dan saya tau ia selalu suka liat kulit sawo matangku memakai warna putih (walau saya lebih suka warna gelap). Katanya kontras dan sexy.

Matanya terus menatetapi kulit tubuhku yang kini mulai terpampang di hadapannya. Ga tau ia sadar atau ngga tangannya meremasi kontolnya tanpa malu di hadapanku. saya jadi ikut berani, tanpa membuka kancing bra kuremasi toketku sendiri dua-dua sampe bibirnya terlihat rada melongo menatapku dengan tatapan terangsang, dengan dua tangan diurutinya kontolnya semakin intens.

Kuturunkan cup braku ke bawah, masih melekat di dadaku tetapi toketku kini terpampang jelas. Kuremasi toketku bersamaan, sesekali kucubiti puting susuku sendiri sambil mendesis kenikmatan.

“Duncan.. Duncan.. ough..”, kubayangkan Duncan yang meremasi toketku.

Rasanya tubuhku melemas, supaya terdukung saya mundur bersandar ke meja kaca rias di belakangku. Kucubiti putingku semakin kuat dan kugigiti bibir bawahku. Mataku terpejam tetapi saya tau Duncan bergerak mendekatiku, tangannya memeluk pinggangku, wajahnya terasa dekat sekali dan adduh, leherku diciuminya, dijilati enaak sekali.

Mataku tetap terpejam asik meremasi toket sendiri sekuat-kuatnya sementara jarinya mencari-cari retsleting rokku. saya waktu itu mengenakan rok panjang hitam bahan lycra, panjang semata kaki dan sepatu boot heel langsing yang bahannya leather hitam tipis melekat erat di betisku sampai lutut, biar sopan maksudku jika ketemu istrinya.

No zip on my skirt, akhirnya ia nyadar juga. Dicobanya menarik turun rokku ke bawah tetapi mungkin repot, dari kiri kanan ditariknya rokku ke atas sambil merabai pahaku, digulung dan diselipkannya di waist band kiri kanan, masih menciumi leher dan bahuku jarinya merabai perutku dan turun ke selangkanganku, menekan kemaluanku dari luar.

Malu juga, pasti celana dalam g-string yang kukenakan sudah basah! Untung aja warna putih. Tekanan-tekanan jarinya membuatku kegelian dan semakin terangsang. I really need more.

“Duncan I want you.. I need you.. please..”, kudengar diriku memelas tergesa-gesa.

Duncan menaikkan tubuhku ke atas meja, kukangkangkan kedua pahaku lebar-lebar mengundangnya masuk, tetapi ia malah merunduk sambil meremasi kontolnya dengan sebelah tangan. Tangan kirinya menekan perutku.

Kudengar diriku sendiri mengerang, “adduh.. oh please..”, bener-bener saya lemes. Keterlaluan dia, g-stringku ditarikkan ke samping, dengan sebelah tangan bibir labium mayoraku dikuakkannya dan memekku dijilati perlahan-lahan. Lidahnya terasa kesat dan menyapu klitorisku yang sudah sensitif sekali.

“Duncan.. gosh.. don’t stop.. please..”

Lidahnya bener-bener meraba seluruh daerah intimku, dari bawah ke atas ke ujung klitorisku.. rasanya enaak sekali, mataku terasa berat untuk dibuka.. memekku terasa basah sekali, ngga tau apa cairanku atau ia yang meludahinya.

Kupejamkan saja mataku menikmati lidahnya. Sesekali klitorisku terasa seperti dihisap dan dijepit dengan bibirnya sampai tubuhku terasa lemas dan panas dingin. Kuangkat tanganku memegangi pinggiran bingkai kaca di belakangku waktu mulutnya ganti menghisap toketku kuat-kuat.

Saya memang pernah cerita suka sekali waktu salah satu mantanku memperlakukan toketku kasar cenderung brutal. Mungkin ia ingat sebab ia juga menggigiti putingku bergantian. Aduh, enak sekali, tetapi rasanya nanggung..

“I need you in me..”, pintaku pasrah.

Tetapi bukannya memasukkan kontolnya, ia malah menghisap putingku semakin kuat dan menusukkan jarinya ke dalam memekku keluar masuk satu jari lagi menggelitiki klitorisku. Adduh, kugigiti bibirku menahan jangan sampe saya njerit-jerit ribut, sampai sakit bibirku.

Saya dimasturbasi sambil kulihat tangannya yang satu lagi semakin kaku mengonani kontolnya. Kubuka pahaku semakin lebar, satu lagi jarinya ditambahkan masuk ke memekku. Rasanya enak sekali. Begitu saja sudah enak sekali.

Kurasakan memekku yang sudah basah mencengkram kedua jarinya, terasa kenikmatan merambat di perut bawahku, panggulku kugerakkan naik turun. Nafasku semakin cepat.. Tak! Kudorong dirinya menjauh sedikit.

“I want you..”, terengah-engah kucoba mempengaruhinya. saya tau ia ingin menghindari intercourse. Kuturunkan g-stringku cepat, kutarik ia mendekat Kupegang kontolnya yang sudah keras sekali, kuarahkan ke klitorisku.

Kami sama-sama memandangi kontolnya waktu kepala kontolnya kutekankan kuat-kuat ke klitorisku, mengoleskan cairan yang keluar dari kepala kontolnya ke bagian lembut klitorisku. Nikmat sekali, kupejamkan mataku sambil terus menggerakkan kontolnya menggaruki klitorisku atas dan ke bawah.

“, Duncan please.. I need you..”, saya sengaja merintih nikmat agak kuat.. berharap he’d fuck me there. Ditariknya saya turun dari meja rias. Belum sempat berpikir dicampakkannya tubuhku kembali ke meja itu menghadap kaca! Sekilas kukira ia marah atau gila. Kulihat sekilas wajahku sendiri di kaca sudah kusut, horny ngga keruan.

Terasa dari belakang pinggang dan perutku ditahannya dengan satu tangan.. adduh, apa ia mau anal aku? Perutku ditopangnya, pantatku agak naik.. Ampun.. sudah terbayang sakit di benakku.. kupejamkan mataku sambil tanganku berpegangan pada tepi bingkai kaca di hadapanku. Terasa ujung kontolnya di tepi luar anusku.. not there! Dalam hati saya sudah panik, kugigit bibirku bersiap menahan sakit.

“MEL!”, kudengar ia menggeram tertahan, kontolnya didorongkan masuk jauh dalam memekku, tetapi dari belakang.. sakit minta ampun! Bagian tepi liang memekku terasa sakit waktu pertama-tama ia berusaha memasukkan kontolnya–aku lega sekali ngga dianal tetapi spontan kepalaku terdongak dengan dorongannya yang terlalu cepat dan kontolnya terasa terlalu besar untukku.

“Adduh sakit! Duncan!”, dahiku terjedut ke kaca di depanku.

Wajahku tertempel ke kaca tetapi ia seperti tak perduli! Sodokan kontolnya ditarik dan malah didorongkan lagi lebih dalam kuat-kuat seperti dendam padaku. Dari kaca kulihat matanya merem melek, kedua tangannya menahan pinggangku, wajahnya merah sekali. Gerakan dorongan kontolnya terasa sakit, tetapi nikmat sekali.

Tubuhku terguncang-guncang waktu saya mulai semakin menikmati kontolnya. Kami sama-sama ngga sadar, tetapi jelas kulihat pintu dibuka di belakang kami.. Jantungku berdegup makin kencang seiring dengan kenikmatan yang semakin menjadi di sekitar selangkangan dan seluruh tubuhku.

Please.. not her? Sempat saya berdoa-doa dalam hati.. at least not now? Duncan tetap mencengkram pinggangku, pinggul dan pantatku ditariknya semakin menungging mempermudah kami semakin melekat, enak dan dalam sekali.

No.. not her, not her wife. Tetapi Sheila.. pacar saudara kembar Duncan. Sekilas ia terkejut dan cepat-cepat menutup pintu mengunci di belakangnya, menatap kami dari posisinya tertegun.

Duncan menatap Sheila dari cermin.

“Sheila..”, di sela erangannya disebutnya juga nama Sheila. saya tak perduli.. terasa nikmat menjalar naik sepanjang paha ke selangkanganku. Kuangkat pinggulku..

“Oh Duncan.. Duncaan.. don’t stop.. Im almost there!”

Kupejamkan mataku, cengkraman Duncan di pinggangku juga mengencang. Klitorisku terasa berdenyut-denyut, rasanya memek membesar dan denyutan menjalar ke seluruh tubuhku. Kontol dalam liang memekku semakin kuat dipompakan keluar masuk. Badanku terus terguncang-guncang dan wajahku menempel di kaca setiap kali ia mendorongkan kontolnya. Dengan sebelah tangan kuraih klitorisku, kugosokkan jariku cepat-cepat..

“Duncan!”, saya menjerit nikmat.. beberapa kali tubuh bawahku mengejang-ngejang kecil.. orgasmeku tak tertahan.. Sheila, dan keluarga Duncan yang mungkin bisa mendengar di luar benar-benar terlupakan.

“Ooh.. Duncan..” tubuhku mengejang sesaat sebelum mulai melemas kecapaian waktu ditariknya sedikit ke tepi meja, dan naik sampai kakiku tak menyentuh lantai.

Kutekuk lututku supaya menyangkut di relief laci. Mendadak Duncan kasar sekasar-kasar yang ngga pernah kubayangkan sebelumnya. Skrotumnya terasa menepuk-nepuk dari belakang. Pahanya juga memukul-mukul bokongku. Bibirnya nyeracau ngga keruan dan dorongan kontolnya bener-bener ngga pantas dibilang dorongan, gerakannya sungguh menyodok-nyodok.. “You’re mine Mel! You’re mine!”, suaranya memakiku.

“Arghh..”, Kontolnya didorongkan kuat-kuat.

Dengan sisa tenagaku, kukontraksikan otot-otot memekku mencengkram kontolnya, tubuh kami menyatu lekat sesaat. Bersamaan dengan erangan terakhirnya terasa ada yang hangat di bagian dalam tubuhku sekilas, his sperm shot mungkin.

Gerakannya berubah pendek dan kaku.. terkilas di benakku ia ngga pakai kondom!! Tetapi saya sudah lemas sekali, nikmat sekali. I don’t love him as lover, tetapi nikmat sekali! Pelan-pelan pelukannya di perutku melemah dan tubuhku kembali bertumpu ke meja. ereksinya melemah dalam liang memekku tetapi ia malah sedikit bertumpu di punggungku.. sebentar.. dan menciumi leherku dari belakang.

Kudengar nafasnya masih terburu bercampur bisikannya membisikkan namaku dan entah apa lagi. Ngga tau yang terengah-engah itu saya atau dia. Sedikit cairan kental turun ke paha dari sela memekku waktu kontolnya yang sudah melemah ditarik keluar. Sekilas ada rasa kehilangan waktu ia sedikit menjauh. Pelan-pelan saya berbalik, masih bersandar ke meja.

Rokku masih bersangkutan dan braku sudah ngga keruan.. Kami bertatapan sungguh ngga tau mau bilang apa. Dari pihakku.. duh capek. Sambil mikirin pakai apa mbersihin pejuhnya dan entah apa di selangkangan dan pahaku? Dan apa yang di pikiran kedua mata biru di bawah alis pucat berantakan itu? Apa ia menyesal?

“Horny dogs!”, Hampir copot jantungku! Sheila melempar sapu tangan ke arahku. Refleks kutangkap.

“Are you mad? They’re all in the kitchen!”

Cepat-cepat kulap selangkangan dan pahaku asal-asalan. Kami berdua buru-buru berpakaian agak risih dengan pandangan ipar ilegal Duncan. Sheila pacar kembaran Duncan, perempuan Amerika yang sudah menikah dan menetap di kota tempat tinggal Duncan sini. Maybe that’s why ia tenang-tenang aja dengan tingkah kami.

“I thought you two were here..”, disodorkannya jaketku. Kali ini saya benar-benar berterima kasih.

“She’s still in the kitchen with everybody.. with the shopping”

“Good. I brought her Indo food I cooked myself..”

Kulirik Duncan yang termangu di pinggir meja rias. Sheila menggait pinggangku..

“Come on, leave him alone.. better for both of you if you’re seen with me.”

Kuikuti Sheila, kami memang berteman baik. Biarin, mungkin lebih baik begini. Everybodys happy and I get tokeep Duncan, my best friend. Sex? Sebodo. Siapa suruh istri begonya ngga ngeladenin? Mana jahat ke saya lagi? Kutinggalkan ia di kamarnya, where we used to play dan cekakakan. Now his room.. with his wife.

<center>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*