Menantu Melayani Hasrat Sex Mertua | Sex Terbaru
Situs BandarQ

Menantu Melayani Hasrat Sex Mertua

<center>

Layar terhembus oleh angin. Ada empat belas orang yang menumpang perahu itu untuk bisa sampai ke sebuah pulau lainnya, untuk menghadiri sebuah perhelatan. Penduduk kampung pulau itu pun dengan senang hati untuk berangkat.

Pulau yang dihuni oleh tak lebih dari enam belas Kepala Keluarga (KK) itu biasa saling menghadiri perhelatan jika diundang oleh tetangga di pulau kecil lainnya. Gugusan pulau-pulau kecil amat banyak di perairan itu. Lautan Hindia yang demikian ganasnya, mereka bisa atasi dengan baik.

Sokil memegang kemudi dan sesekali tangan kirnya menarik tali yang digunakan untuk mengendalikan layar. Perahu itu pun terangguk-angguk di terpa ombak-ombak kecil. Tetapi tiba-tiba saja awan gelap dan angin demikian kencangnya.

cerita mesum sedarah hot, cerita sex sedarah terbaru, cerita ML sedarah, kisah ML sedarah 2018, cerita sedarah bergambar, seks sedarah mertua, ngentot sedarah mertua, sedarah seks 2018, cinta sedarah baru, cerita bokep sedarah, ngentot memek mertua

cerita mesum sedarah hot, cerita sex sedarah terbaru, cerita ML sedarah, kisah ML sedarah 2018, cerita sedarah bergambar, seks sedarah mertua, ngentot sedarah mertua, sedarah seks 2018, cinta sedarah baru, cerita bokep sedarah, ngentot memek mertua

cerita mesum sedarah hot, cerita sex sedarah terbaru, cerita ML sedarah, kisah ML sedarah 2018, cerita sedarah bergambar, seks sedarah mertua, ngentot sedarah mertua, sedarah seks 2018, cinta sedarah baru, cerita bokep sedarah, ngentot memek mertua

Semua diminta untuk mawas diri, sebab mereka sudah berada di tengah laut. Biasanya mereka berlayar selama tujuh sampai delapan jam menuju pulau tetangga yang mengundang mereka.

Sokil yang berusia 24 tahun dan sudah punya isteri dan dua orang anak dan tinggal di pulau sebab isterinya sedang hamil tua, sudah ragu akan keadaan angin.

Cepat ia melepaskan tali dan minta kepada penumpang lainnya yang juga nelayan, untuk menurunkan layar. Angin tak dapat dikendalikan, selain kencang dan deras, ia juga berputar-putar.

Baru saja ia berteriak agar layar diturunkan, baru layar dilepas tali pengikatnya, tiba-tiba angin kencang dan berputar-putar menerpa layar mereka, membuat perahu terangkat dari atas air laut setingi lebih dua meter. Kemudian perahu terhempas ke laut dalam keadaan terbalik.

Sokil yang sudah sangat wanti-wanti duduk di buritan bersama mertuanya. ia sudah memegang bambu ukuran besar, bila terjadi apa-apa. Ujung bambu ia ikat, kemudian ujung tali lainnya ia ikatkan ke pergelangan kakinya.

Persis seperti orang bermain selancar. Begitu perahu terangkat kemudian terbalik dan terhempas, dengan cepat ditarik genggam tangan mertuanya dengan kuat dan ia peluk. Hampir semua penumpang perahunya itu berteriak histeris.

Sokil menyuruh mertuanya memeluk batang bambu itu kuat-kuat, lalu Sokil mendorong tubuh mertuanya. Sokil dan mertuanya yang pandai berenang, dengan kedua kakinya mereka mengikuti arus.

Terserah arus mau membawa mereka kemana. Semua penumpang perahu berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Perahu sudah pecah berkeping-keping, sebab perahu itu juga sudah tua.

Lewat mahgrib, Sokil dan mertuanya, terdampar di pantai sebuah pulau kecil. Disana ada sebuah gubuk kecil, sepertinya sudah lama tak dipakai lagi. Dengan tersengal-sengal Sokil memeluk mertuanya yang tinggal memakai celana dalam saja, sebab kain sarungnya entah sudah dimana.

Mereka memasuki gubuk, walah atasnya disana-sini sudah banyak yang bocor, namun lebih baik, sebab sebentar lagi hujan deras akan turun. Dengan beberapa buah tempurung yang dibersihkan seadanya, Sokil menampung air hujan untuk mereka minum.

TAARRRR…! Halilintar membahana menakutkan. Inah – 46 tahun, mertua Burhan, terkejut dan menghambur ke pangkuan menantu laki-lakinya. Tiba-tiba dunia menjadi gelap. Tak ada penerangan apapun di pulau itu. Hanya ada suara desau angin dan debur ombak, lalu… sepi.

Emak takut… Hanya kita berdua di sini.” kata mertuanya.

Jangan takut, Mak. Sokil ada di samping Emak…”

Emak tau. Pakaian Emak basah sekali. Angin Kencang, dingin sekali.”

Sokil akan peluk Emak, supaya tak dingin,” kata Sokil membawa mertuanya ke sebuah sudut, agar sedikit terhindar dari hembusan angin kencang.

Sokil membuka celananya dan menggantungkannya di sebuah sudut gubuk yang terlindung agar besok sudah agak kering, bisa dipakai. Kalau memakai pakaian yang basah, lebih dingin lagi. Setelah yakin ia telanjang di tengah gelap gulita itu, ia minta agar mertuanya memeras bajunya, agar cepat kering dan tak masuk angin.

Dalam pikiran mertuanya juga sama dan membuka bajunya lalu memerasnya. Terdengar suara air jatuh ketika ia memeras bajunya di tengah gelap gulita itu. Tak ada yang bisa kelihatan. Jari tangan dihadapkan di depan mata saja tak kelihatan. Begitu cepat cahaya menghilang dan mereka sudah tak memikirkan lagi teman-teman mereka satu perahu. Besok mungkin mereka akan bertemu.

Kamu dimana?” suara mertuanya bergetar kedinginan.

Ya, aku akan mendekat. Aku akan mendatangi suara Emak,” kata Sokil mendekati dan berupaya
meraba-raba dengan tangannya ke arah suara. Hep… kedua tangan mereka bertemu dan daya ingat Sokil sangat kuat. Berarti mertuanya tak jauh dari sebuah sudut yang aman dari terpaan angin kuat dan kebocoran atap gubuk. Cepat dipeluknya tubuh mertuanya yang ia yakini, mertuanya pasti sedang ketakutan.

Ketika berpelukan itu, dengan cepat Sokil dan mertuanya merasakan persentuhan kulit-kulit tubuh mereka seperti ada arus kehangatan. Sokil mengira, mertuanya hanya memeras bajunya saja kemudian memakainya kembali, ternyata mertuanya bertelanjang di kegelapan itu.

Dalam, pikiran wanita itu, biarlah ia bertelanjang saja daripada menahankan dingin dengan pakaian basah ditubuh, toh tak seorang yang bisa melihat tubuhnya bertelanjang. Dalam pikiran mertua Burhan, Sokil yang masih muda, masih tahan melawan dingin dan hanya sebentar meremas pakaiannya lalu memakainya. Dua pikiran yang sama, dengan keyakinan mereka tak akan berpelukan dalam keadan bugil

Sokil langsung seperti tersengat listrik dan sekujur tubuhnya menjadi hangat tiba-tiba. Mertuanya juga demikian. Tak menyangka gesekan antara kulit itu mampu menghangatkan tubuhnya dan membuat darahnya mendesir-desir dengan menantu laki-lakinya itu.

Ketika ia mau melepaskan diri dari pelukan pemuda itu, Sokil ternyata tak melepasnya, bahkan semakin memperkuat pelukannya. Tetek mertuanya yang menempel di dadanya, membuat tangannya secara refleks memegang sebelah pantat mertuanya yang ternyata juga sudah melepaskan celana dalamnya.

Sokil baru sadar, kalau bulu kedua kemaluan mereka sudah saling menempel. Demikian juga dengan mertua Burhan. ia merasakan ada benda yang menempel di selangkah pahanya dan ia tahu benda apa itu. ia ingin ia melepaskan pelukannya, tetapi pelukan menantunya demikian erat.

Sokil memangku mertuanya. Sokil meminta mertuanya merangkul tengkuknya, kemudian Sokil membawa mertuanya itu ke sebuah amben tiga batang bambu tua. Sokil duduk di amben itu.

Peluk Burhan, Mak. Rapatkan tubuh Emak, biar kita hangat,” bisik Sokil kepada mertuanya.

Tetapi ini pantang, Nak?” kata sang mertua.

Kita akan mati kedinginan, bila kita tak saling menghangatkan. Lupakan pantang sejenak, Mak…” Sokil berusaha meyakinkan.

Mereka pun berpelukan. Sokil menempatkan kedua telapak kaki mertuanya *di lantai Bambu, agar tak dingin di pasir, lantai gubuk itu. Sokil pun memeluk mertuanya dengan kuat dan berharap agar hari cepat terang dan mereka bisa mencari apa saja untuak mereka makan dan untuk mereka pakai untuk pulang ke pulau mereka.

Halilintar sepertinya sudah letih terus menerus memuntahkan suaranya yang vaginaakkan telinga. Hujan juga rasanya sudah tak sederas tadi, dan angin pun pun sepertinya sudah lelah terus berhembus.

Tubuh mertua dan menantu itu semakin hangat, bukan sebab angin berhenti berdesau saja atau hujan semakin menipis turunnya. Keduanya tak sadar, kalau mereka sedang dialiri darah cepat yang mereka tak ingini. Pelukan dan gesekan kulit mereka membuat mereka secara diam-diam dan malu, menjadi bernafsu. Nafsu itulah yang membuat mereka menjadi hangat dan rasa dingin semakin menjauh.

Secara perlahan-lahan Sokil merasakan mertuanya, menggeser-geser tubuhnya. Himpitan vagina mertuanya terasa sekali di pangkal pahanya. Terasa hangat dan basah. Sokil juga merasakan pentil tetek mertuanya semakin keras menusuk bagian dadanya. Sokil sendiri juga merasakan nafsunya demikian keras. Tetapi bagaimana caranya, agar mertuanya tak mengetahuinya, sementara wanita itu butuh kehangatan.

Inah merasakan kemaluan menantunya terasa mendenyut-denyut di bibir vaginanya. ia berusaha untuk tetap tenang, agar apa yang dirasakannya tak diketahui oleh Burhan, sebab selain ia malu, ia juga tak ingin Sokil menjadi malu.

Inah merasakan degup jantung Sokil demikian keras. Itu terasa ke degup jantungnya sendiri. Ketika kepalanya disandarkan di tengkuk Burhan, ia merasakan dengus nafas Sokil seperti sudah tak teratur. ia mengetahui sekali bagaimana laki-laki kalau sudah bernafsu. Tubunya kini masih dalam dekapan kuat kedua tangan Burhan.

Kedua mertua dan menantu itu memiliki pikiran masing-masing, untuk saling menjaga, agar tak ada yang merasa malu. Menantu meyakinkan dirinya bagaimana caranya agar mertuanya tak merasa malu dan sebaliknya juga demikian. Tetapi Sokil yang masih berusia 24 tahun dan masih menginginkan nafsunya tersalurkan, terlebih dalam keadaan demikian, dalam beberapa detik kehilangan akal sehatnya.

Dengan kuat tangan kirinya yang memeluk tubuh mertuanya mulai dari pinggang ke atas, mampu mengangkat tubuh ibunya. Inah sendiri yang diangkat tubuhnya tak mengetahui apa keinginan menantunya dan mengikuti angkatan tangan Burhan. ia tekan kakinya ke lantai bambu agar tubuhnya terangkat.

Ketika tubuhnya terangkat sedikit ke atas, Sebelah kanan tangan Sokil memegang kemaluannya dan mengarahkannya ke vagina mertuanya. Vagina yang sudah basah kuyup dengan lendir nafsu itu, ketika Sokil mendudukkan emaknya kembali ke atas pangkuannya, Cluuup… Kemaluan Sokil yang tegang, begitu cepat tertelan ke dalam vagina mertuanya. Ketika kemaluan Sokil sudah berada sepenuhnya dalam vaginanya, Inah tersadar dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Burhan.

Burhan, kita sudah tak benar…” katanya berusaha meronta.

Emak. Semua sudah terlanjur. Biarlah. Tak ada yang tak benar. Kita sedang dalam hal yang benar,” katanya dan terus memeluk mertuanya.

Mertuanya tak bisa berbuat apa-apa. Sokil mencium leher mertuanya dan mengelus-elus punggung mertuanya. Lama kelamaan, Inah pun tersirap juga. ia mengalah, toh semuanya sudah terlanjur. Kemaluan menantunya sudah di dalam.

Sebentar atau lama, kemaluan menantunya sudah dalam lubang vaginanya. ia hanya diam dan menyandarkan wajahnya ke leher Burhan. Sokil hanya mengelus-elus tubuh mertuanya. Kulit keduanya demikian lengket, seperti lepat dan daun. Mereka diam dan perlahan-lahan Inah terpancing juga dan ia secara perlahan, ikut pula mengelus tubuh Burhan.

Sokil terkejut, sebab mertuanya sudah mulai mengelus tubuhnya.. Perlahan Sokil mulai berusaha menusuk tarik penisnya di vagina mertuanya. Di tekannya pantat mertuanya dengan tenaganya, kemudian di lepaskannya, kemudian ditekannya kembali. sampai akhirnya, pantat mertuanya berjalan maju-mundur sendiri tanpa ditolak-tolak lagi.

Inah entah sadar atau tidak, ia memaju mundurkan pantatnya, sampai pula pada ketika yang tak terduka, Inah justru mempercepat maju-mundur pantatnya, hingga penis menantunya bisa keluar masuk dalam vaginanya yang basah.

Inah mendesah-desah dan Sokil juga demikian. Mereka tak berhenti dan sama-sama mereka memberi respons dengan cepat dan semakin cepat, dengan desahan nafas yang memburu.

Sokil memeluk mertuanya dengan kuat, dan pelukan Sokil pun dibalas pula dengan pelukan yang kuat pula. Sama-sama mereka tiba di puncak nikmat yang rasanya tak terlukiskan dengan kata-kata. Keduanya hening dengan nafas mereka yang memburu, masing-masing mereka berusaha menetralkannya.

KIta sudah salah,” kata Inah.

Tak ada yang salah,” kata Burhan.

Cukup hanya ini, tak boleh lagi,” kata Inah yang masih berada dalam pelukan Burhan.

Jika ada kesempatan, kita harus melakukannya lagi. KIta boleh cari pulau mana yang kita suka dengan alasan mencari ikan atau apa saja,” tegas Burhan.

Tak boleh. Aku emakmu,” tandas Inah.

Tidak. Sekarang emak adalah isteriku yang sangat rahasia. Jika bukan isteriku, mana mungkin kita sama-sama menikmatinya?” Sokil berkilah.

Inah diam. Apa yang dikatakan Sokil benar. Baru saja ia menikmati betapa indahnya bersetubuh dengan menantunya sendiri yang sudah lama tak ia rasakan, sejak suaminya jatuh dari pohon kelapa.

Berdua mereka mencuci tubuh mereka ke air laut. Kembali mereka ke gubuk dituntun oleh sinar rembulan yang malu-malu di balik awan. Berdua mereka kembali ke gubuk dan duduk di tempat yang sama. Sokil kembali memangku mertuanya dengan kasih sayang dan kali ini, Sokil sudah berani menciumi bibir mertuanya dan mempermainkan lidahnya di mulut sang mertua. Dan…

Lalu kita ini bagaimana? Apakah ada yang tahu, kalau kita selamat di Pulau ini? Bagaimana pula nasib teman-teman kita yang lain?” tanya Inah sedih mengenang teman-teman mereka yang belum diketahui nasibnya.

Inah dan Sokil berusaha mengelilingi pulau yang hanya seluas tak lebih dari 20 hektar itu. Seharian mereka berupaya mencari teman-teman mereka sembari menunggu ada orang yang bisa melihat mereka untuk mendapatkan pertolongan. Nyatanya nihil.

Untung di pondok yang usang itu, ada sekotak korek api yang masih kering. Ada pula minyak lampu sedikit dengan sumbu lampu teplok yang tersisa. Yang lebih membuat mereka senang, mereka menemukan sebuah parang, walau sudah berkarat, tetapi masih bisa dipakai. Sokil berupaya menajamkan parang itu dan memanjat kelapa untuak mereka makan.

Mertuanya sudah memakai celana dalam dan baju Jacket Sokil dililitkan di pinggangnya, namun Sokil masih tetap memandang mertuanya itu dengan nafsu. Sokil juga berupaya mengorek-ngorek lumpur ketika pasang surut, untuk mendapatkan beberapa puluh kerang.

Sokil mencari dedaunan kelapa untuk disisipkan di atas gubuk, serta memperbaiki bale-bale pada gubuk. Di dinding gubuk pun diselipi daun kelapa yang mereka ambil di tanah. Kerang itu mereka cucuki pakai lidi, kemudian ditumpuk di daun kelapa kering dan dibakar.

Wah rasanya enak sekali, terutama dalam keadaan lapar. Seharian mereka membenahi gubuk, mencari makanan dan untung di sebuah perbukitan ada mengalir air. Walau debitnya sangat kecil, tetapi bisa ditampung pada baskom usang untuk minum dan mereka memasaknya di tungku dengan pelepah kelapa jadi kayu apinya.

Hari semakin gelap saja, sebentar lagi akan gulita dan pekat serta hitam. Ikan-ikan kecil yang ditanggok pakai kaos singlet di tepian, mereka makan dengan lahapnya. Biji buah Ketapang juga mereka makan dengan lahap. Sore berganti senja dan senja bergerak ke barat menuju malam. Nun di ufuk timur sana, ada warna jingga, secara perlahan hilang di balik laut luas dan lepas.

“Kita bakal bermalam lagi di sini,” kata Inah seperti mengeluh.

Ya, kita akan tidur bersama sekarang, sebab aku sudah buat bale-bale untuk kita berdua,” kata Burhan.

Tapi…”

Jangan pikirkan yang lain. Kita saling membutuhkannya sekarang,” jawab Sokil singkat.

Inah mengerti maksud perkataan Burhan. Dari kejauhan ada kelihatan lampu kelap-kelip. Ada harapan bagi mereka, Namun lama kelamaan lampu kelap kelip dari perahu itu, hilang pula. Mereka yakin sekali, perahu itu pasti sedang mencari mereka.

Mereka pun pasrah setelah tak seberkas cahaya dari matahari pun yang kelihatan. Hari berganti dengan tiba-tiba dan langsung gelap. Itulah laut.

Sokil menuntun mertuanya ke gubuk dan mereka tiduran di bale-bale, dengan parang tetap siap sedia tak jauh dari kepala Burhan. Sebab dingin, Inah memakai jaket Sokil sementara di bagian bawah ia hanya memakai celana dalam saja.

Dinding yang dikelilingi oleh daun kelapa yang kering, juga dijadikan pengganjal agar tempat tidur mereka terasa empuk dan hangat. Tubuh mereka juga dikelilingi oleh daun kelapa yang kering.

Mak, aku selalu curi-curi dengar. Kalau Bapak tak bisa lagi melayani Emak,” bisik Burhan.

Kenapa kamu suka mencuri dengar. Tak baik,” sela Inah

Mulanya iseng saja. Kelamaan aku menginginkannya walau aku sudah punya isteri.”

Sebenarnya ini tak bisa kita lakukan.”

Ya. Tetapi nyatanya, kita saling membutuhkan,” Sokil tak mau kalah sebab pahanya sudah berlaga dengan paha mertuanya.

Keduanya pun diam. Inah tak bisa membantah apa yang dikatakan Burhan. Tiba-tiba saja bibir Sokil sudah mengecup bibir Inah. Mulanya Inah berupaya menahan diri. Namun rabaan tangan Sokil pada selangkangannya dan elusannya pada buah dadanya, membuat Inah tak mampu lagi menahan diri.

Burhan, Emak takut,”

Jangan takut, Mak, aku ada di samping emak.”

Emak takut hamil.”

Jangan takut, Mak. Kan ada aku.”

Justru itu, nanti bagaimana kalau aku hamil sebab ini…” Inah mengelus penis Burhan.

Tenang saja, Mak.” Sokil mengupayakan menghilangkan kecemasan mertuanya. Perlahan-lahan Sokil memelorotkan celana dalam mertuanya *sampai lepas. Kemudian dielusnya bulu-bulu yang memenuhi antara dua paha mertuanya itu. Selain itu, Sokil juga mengisap-isap tetek mertuanya dengan rakus.

Bagaimana ini….” desah mertuanya.

Sokil diam saja dan terus mengulum lidah mertuanya.
“
Oh… biarlah, cepat saja masukkan.” Inah akhirnya meminta.

Mendengar perkataan mertuanya, Sokil langsung menaiki tubuh mertuanya dan Inah pun mengangkangkan kedua kakinya. Vagina yang sudah basah itu ditusuk oleh penis menantunya, sampai amblas.

Keduanya tak bersuara apa-apa kecuali desahan-desahan nafas dan rintih kecil dari mulut Inah. Sokil memompanya dengan teratur dan pompaan itu membuat Inah seperti tak mampu berkata apa-apa lagi selain menggoyang-goyangkan pinggulnya dari bawah.

Inah pun terus merintih-rintih dan dengan kuat, ia membalikkan tubuhnya. Posisi mereka sudah berubah. Sokil kini berada di bawah dan Inah menekan-nekan tubuhnya dari atas. Pantatnya ia putar-putar dan teteknya menekan-nekan dada Burhan. Kelihatan Sokil jadi kewalahan sekali mengimbanginya dan ia mendesah, menyatakan ia akan sampai.

Jangan dulu…” Inah semakin mempercepat putaran pinggulnya ke kiri dan ke kanan, serta ia menekan jauh ke dalam.

Maaaakkkk… aku sampeeeekkkk…” Sokil memeluk mertuanya dari bawah dan mencengkram tengkuknya.

Inah terus memutar pinggulnya, takut penis menantunya jadi mengecil. ia terus berupaya secepatnya untuk mengejar nikmat, jangan sampai penis itu mengecil; dan keluar dari vaginanya. Inah pun mengerang kuat.

Akhhhhhh… Lalu erangannya menjadi senyap di telan gelap gulita yang pekat. Mereka berpelukan dan tertidur dengan pulas di malam gelap itu. Sebab angin sedikit kencang, nyamuk-nyamuk tak berani mendekat.

Mereka terbangun, ketika matahari mulau menusuk-nusuk mata mereka. Cepat Sokil terbangun dan bangkit, lalu memakai pakaiannya. ia takut, ketika mereka tertidur, sudah ada orang di pulau itu yang melihat keadaan mereka.

Akhirnya mereka pun ditemukan oleh nelayan pulau lain di pulau itu dan memberi mereka kain untuk disarungkan. Nelayan itu membawa mereka ke pulau mereka setelah tiga malam mereka berdua terdampar di pulau itu.

Beberapa yang ikut satu perahu dengan mereka, ternyata ditemukan meninggal dunia. Jenazah dimakamkan, dan tak lebih dari 10 hari, pulau kecil itu dirundung dukacinta. Setelah itu, semuanya kembali normal kembali. Semua kembali melaksanakan tugasnya masing-masing dan duka sudah dapat diatasi.

Inah juga mulai melaut, sebab suaminya yang sudah lumpuh tak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya tinggal di rumah mereka yang kecil. Harus diuruskan makan dan mandinya. Bergantian Inah dan anak-anaknya mengurus suaminya itu.

Dalam sebuah kesepakatan, Sokil mengusulkan agar ia ditemani mertuanya untuk bersama melaut dan menangkap kepiting serta hal lain yang bisa dilakukan. Sedang dua adik Sokil dengan perahu lain. Isteri Sokil untuk menyiapkan segala sesuatunya di rumah. Kesepakatan itu disetujui oleh seisi penghuni rumah. Kesepakatan itu dimulai esok pagi.

Pagi-pagi sekali Inah sudah mempersiapkan sarapan pagi dan bontot untuk dua orang untuk dibawa ke laut dan ke pulau lain. Disiapkan jaring dan jala, serta alat penangkap kepiting. Adik Sokil juga demikian.

Selesai sarapan pagi itu, Sokil bersama mertuanya menuju perahu mereka dan dua adiknya menuju perahu lain. Mereka sepakat, Sokil dan mertuanya menuju pulau Lingam dan dua adiknya menuju Pulau Layu. Layar pun dipasang, Sokil mengemudikan perahu itu dengan telaten.

Apakah Emak mengerti, kenapa aku memilih emak temanku satu perahu?” tanya Sokil di sela-sela desau angin yang membawa perahu mereka melaju.

Inah tak menjawab dengan kata-kata, tetapi dengan senyum. Sokil mengerti jawaban mertuanya. Sebuah senyum pengertian.

Aku rindu, Mak.” kata Burhan.

Aku mengerti. Nanti kita ke Pulau Jago-jago dulu, untuk mengambil beberapa ramuan. Emak takut, kalau nanti Emak menjadi hamil,” kata Inah.

Jangan, Mak. Aku mau Emak hamil, sebab aku. Aku mau kita punya anak, Mak.”

Bagaimana nanti kata orang?”

Pokoknya aku mau Emak hamil sebab aku,” kata Sokil menegaskan.

Perahu pun tak jadi diarahkan ke Pulau Jago-jago. mereka meneruskan arah ke Pulau Linggam. Di sana banyak paluh-paluh dan lumpur. Mereka menunggu sebentar pasang surut, agar mereka bisa meraba kerang. Sokil meminta Inah mendekat ke arahnya di buritan agar haluan perahu tengkat sedikit ke atas dan angin meniup layar, kemudian laju perahu bisa semakin kencang.

Inah pun melakukan permintaan menantunya. Inah menyandarkan tubuhnya ke punggung Burhan. Sembari menjaga kemudi, Sokil pun memeluk mertuanya dari belakang. Dimasukkannya tangan kirinya ke dalam baju mertuanya dan ia mengelus tetek mertuanya *yang masih kenyal. Mertuanya pun merasakan, ada daging menekan-nekan punggungnya. ia tahu kalau penis Burhan, sudah mengeras.

Hati-hati. Sebentar lagi kita sampai ke pulau. Arahkan haluan ke sebelah kiri. Aku yakin di sana sepi,” kata Inah.

Sokil mengikuti. Begitu beberapa puluh meter lagi di pantai pulau, Sokil menurunkan layar dan ia mulai mengayuh perahu. Langsung Sokil mengayuhkan ke sela-sela rumpun pohon-pohon Bakau. Ada beberapa pasang anak burung mencicit-cicit di pepohonan, merasa terusik ketenangan mereka atas kehadiran Sokil dan Inah.

Kenapa kita kemari?” tanya Inah.

Agar orang tak melihat kita. Aku rindu Mak. Aku ingin,” kata Sokil serak.

Inah mengerti maksud menantunya. Sebenarnya Inah justru jauh lebih menginginkannya lagi, sebab ia sudah merasakan lama tak disetubuhi dan ia juga sudah merasakan betapa nikmatnya disetubuhi Sokil menantunya itu.

Perahu ditambatkan di batang pohon Bakau dengan kuat. Mereka mengambil di sela-sela pohon Bakau yang sangat rimbun dan teduh dari terik matahari. Dengan tak sabar Sokil langsung menyergap tubuh mertuanya dan melapas kain sarung mertuanya.

Sokil sendiri melepas celana pendeknya yang pinggang celana itu itu hanya berkaret saja. Sokil dari rumah sengaja tak memakai celana dalam. Mertuanya ia tidurkan di atas potongan-potongan papan di atas perahu.

Cepat ia mengangkangkan kedua kaki mertuanya, lalu ia berjongkok di antara kedua kaki mertuanya. Langsung ia cucuk vagina yang berbulu lebat itu. Setelah semuanya masuk ke dalam vagina hangat itu, Sokil menindih tubuh mertuanya dan memompanya dari atas dengan ganas.

Kali ini Inah yang sudah lama menginginkannya, langsung pula memberikan tanggapan dari bawah. ia memeluk Sokil kemudian menggoyangkan bagian tubuhnya untuk menjawab pompaan Burhan.

Air berkecipak sebab perahu bergoyang-goyang dan burung-burungpun serentak terbang dari pohon-pohon bakau yang membuat suara dedaunan menjadi bergesekan. Ketika itu pula Inah tak mampu membendung kenikmatan dalam dirinya. ia menceracau. Duh… enaknya, duh… nikmatnya, duh… penismu besar juga, dan seterusnya.

Mendengar ceracau mertuanya, Sokil semakin bersemangat dan terus memompanya dari atas, sampai mereka berpelukan erat dan Sokil menyemburkan spermanya dengan sebanyak-banyaknya ke dalam rahim mertuanya.

Setelah semuanya kembali normal, mereka melepas tambatan perahu mereka menuju keluar. Di beberapa tempat mereka memasang jerat kepiting dan Inah menyiapkan alat-alatnya untuk merogoh kerang dari lumpur, sebab sebentar lagi akan pasang, ia harus cepat. Sokil pun menyiapkan jalanya pula. Ketika keluar itu Inah menanyakan, bagaimana dan apa alasan kepada siapa saja, bila ia benar-benar hamil.

Orang kampung kan masih tau, kalau Bapak masih ada,” kata Burhan.

Tetapi bapakmu sudah tak bisa lagi melakukan seperti apa yang kita lakukan tadi.”

Tetapi apa orang kampung tau, kalau Bapak sudah tak mampu lagi,” tanya Burhan.

Tidak.”

Kalau tidak, tenang saja. Orang kampung akan mengira, emak hamil sebab Bapak. Tak usah dipikirkan. Yang penting emak harus hamil dari aku,” tegas Burhan.

Inah tersenyum. ia juga ingin punya anak dari Sokil menantunya itu.

Mereka pun sibuk melakukan tugasnya. Sokil menjaga agak ketengah laut, sedang Inah meraba kerang serta memasang alat tangkap kepiting

Hasil tangkapan Sokil dan Inah kelihatan lumayan. Isteri Sokil yang masih memiliki bayi merah, senang-senang saja. Demikian juga Suami Inah yang selalu mengeluarkan lendir (ngences) dari mulutnya dan terus terbaring di tempat tidur atau di dudukan. Suami Inah, ayah Sokil sudah tak bisa ditangkap lagi, apa yang dibicarakannya.

Sudah dibawa ke berbagai dukun yang mengatakan, pohon tempatnya memanjat itu ada hantunya, hingga harus dibuatkan syaratnya. Sudah berkali-kali disyarati, namun tak sembuh juga. Inah pun atas anjuran Burhan, selalu bercerita kepada tetangga, kalau dirinya selalu dipaksa oleh suaminya untuk bersetubuh. Inah diminta dari atas dan harus begini dan begitu dengan bumbu mengenaskan, Inah terus bercerita kemana-mana. Tetangga pun merasa simpati kepada Inah.

Hayo cepat… bawa jaring, biar kita kerja cari ikan yang banyak untuk mengobati bapakmu,” teriak Inah seakan marah kepada Burhan.

Sokil pun dengan cepat menyiapkan segalanya. Mereka naik ke perahu dan berkayuh ke tengah laut, setelah isteri Burhan, anak Inah memberikan bontot untuk makan siang mereka berdua. Layar pun terkembang dan Inah mulai mengeser duduknya merapat ke belakang dan menyandarkan dirinya ke dada Sokil dengan manja.

Pandai juga Emak, hingga mereka semua simpati kepada kita,” ujar Burhan.

Inah tersenyum saja. Mereka mendatangi pulau, kemudian menebar perangkap penangkap kepiting, lalu ke pulau lain dan terus menebar perangkap kepiting. Orang-orang yang mengetahui kalau itu perangkapnya Sokil dan mertuanya, mereka tak mengusiknya, sebab mereka juga takut pada

Sokil yang sangat temperamental. Ada beberapa pulau yang mereka tebar. Kemudian Sokil mengarahkan haluan perahu nun ke pulau yang jauh di sana.

Kenapa kita begitu jauh?” tanya Inah.

Agar kita aman,” kata Burhan.

Inah pun tersenyum. ia sudah ketagihan mendapat nikmat dari Burhan. Sembari berlayar, Maumunah mengarahkan tangan Sokil memasuki baju kaosnya agar Sokil meremas-remas teteknya.

Semua teman mereka satu pulau, mengenal layar Sokil yang merah bergaris-garis. JIka layar itu melintas, mereka malah menjauh, sebab mereka takut bertengkar dan mengakibatkan perkelahian dengan Burhan.

Melihat layar Sokil menuju pulau yang terjauh, mereka selain bertanya-tanya, juga ada rasa kagum, mertua dan menantu itu berani berlayar sebegitu jauh, dengan dalih harus kerja keras untuk mendapatkan uang untuk mengobati seorang ayah yang sedang sakit.

Pulau kecil, dikelilingi sekali. Kemudian mereka bertambat di tempat teduh dengan pasir yang landai. Sejauh mata memandang tak ada kelihatan perahu. Hanya ada sebuah kapal besar yang melintas nun di kejauhan. Inah memeluk Sokil dan dengan buasnya ia langsung melumat bibir Burhan. Dielusnya penis Sokil dari balik celana.

Aku tak pernah puas dan rasanya tak pernah mau berhenti,” kata Inah. Dikeluarkannya teteknya dan diminta untuk dilumat oleh Burhan.

Sokil mulai melumatnya dan mempermainkannya. Sokil mengajak Inah agak ke dalam pulau. Disana mereka menelanjangi diri mereka dan mengembangkan kain layar sebagai alas mereka. Mulailah mereka bergumul dan saling merangsang.

Inah belum pernah dijilati vaginanya dan belum pernah pula mengulum-nguluim serta menjilati penis siapapun juga.

Inah pun merengek-rengek meminta, agar Sokil memasukkan penisnya ke dalam vaginanya yang sudah ternganga sedari tadi.

Ayo, sayang. Jangan sampai Emak tersiksa lama-lama,” pinta Inah memelas.

Sokil mulai mengocoknya maju-mundur. Setelah hampir 20 menit memompa vaginanya, Inah pun menjerit-jerit kecil kenikmatan. ia memeluk Sokil dengan kuat sekali, sampai Sokil juga memuntahkan spermanya.

Dengan nafas terengah, mereka tersenyum dan Inah secepatnya memakai kembali pakaiannya, menjaga kemungkinan ada manusia lain. Sokil juga demikian.

Matahari sudah berada di ubun-ubun. Mereka mengambil bontot dan makan siang. Pada ketika makan siang itulah Inah menyampaikan kabar kepada Burhan, kalau ia sudah hamil dua bulan. Sokil menatap Inah.

Benarkah?” tanya Burhan.

Inah mengangguk bangga.

Anakmu… cucuku,” kata Inah.

Sokil tersenyum. ia mengerti makna ucapan emaknya itu. “Lalu bagaimana?” tanya Burhan.

Tetangga sudah aku atasi juga seisi keluarga kita, termasuk isterimu dan adik-adikmu. Tinggal Bapakmu. Bapakmu, aku yang atasi, kau pura-pura tak mengerti saja,” kata Inah.

Sokil setuju dan tersenyum. “Sudah lama aku menginginkan ini, Mak. Sebenarnya sudah lama aku ingin punya anak dari Emak. Anak kita,” kata Burhan.

Inah pun tersenyum.

Sokil menebar jala dan hari itu mereka memang lagi mujur banyak ikan yang didapat. Ketika mereka menyinggahi pulau-pulau yang ditebari alat penangkap kepiting, juga banyak yang didapat. Mereka tersenyum.

Berlipat ganda rezeki kita, Mak,” kata Burhan. Inah tersenyum.

Perut Inah semakin besar dan besar. Isteri Sokil senyum-senyum saja bahkan mengatakan, agar Sokil menjaga mertuanya bila melaut, jangan dikasih kerja berat. Sokil justru sangat senang dalam kehamilan ibunya, mereka terus bersetubuh di sela-sela pohon bakau.

Inah tahu, kalau kehamilannya itu dipertanyakan oleh suaminya, tetapi Inah tak mau menjawab bahkan lidahnya ia peletkan mengejek suaminya yang sudah tiga tahun tak memberinya nafkah bathin.

Suatu sore ketika Sokil dan Inah mau menebar jala, tiba-tiba nelayan berteriak dari kejauhan. Niat mereka mau bersetubuh memasuki pohon bakau, terhenti sebab ada yang mengusik.

Kalian harus segera kembali.”

Kenapa?”

Maaf, suami kakak meninggal dunia?”

Inah pura-pura menangis histeris dan Sokil demikian sedih melihat mertuanya menangis. Cepat mereka kembali. Tak seorang pun yang tahu, ketika mereka mau berangkat subuh tadi, Inah membubuhkan racun ke dalam gelas kopi suaminya.

Seperti biasanya, suaminya begitu bangun, tanpa cuci mulut apalagi sikat gigi, langsung minum kopi. Inah sempat melihat suaminya meneguk setengah gelas kopi yang ia hidangkan.

Sudahlah, Mak. Emak harus tabah. Kita semua harus tabah,” bujuk Sokil yang tak mengerti apa-apa.

Setelah anak mereka lahir, Inah diam-diam meminum ramuan, agar ia tak hamil lagi. Peranakannya dikeringkan dengan meminum ramuan, hingga ia takkan pernah melahirkan lagi. Tak seorang pun percaya, kalau anak bungsu Inah adalah anaknya dengan Sokil yang juga menantunya sendiri.

<center>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*