Sahabat Sahabat Yang Bisa diajak Ngentot | Sex Terbaru
Situs BandarQ

Sahabat Sahabat Yang Bisa diajak Ngentot

<center>

Punya sahabat cantik cantik namanya Huan dan Fung, mereka adalah teman setiaku untuk melampiaskan hawa nafsu , bisa jadi seminggu sekali atau tiga kali kami melakukan hubungan badan, seringnya kita berkumpul di rumahnya Huan, sahabatku itu memang tipe hypersex apalagi Fung ucchhh tak ada puasnya dia memiliki nafsu lebih besar ketimbang Huan.

Sahabat Sahabat Yang Bisa diajak Ngentot 1`

Sahabat Sahabat Yang Bisa diajak Ngentot 1`

Permainan ranjangnya sungguh-sungguh menggairahkan, sehingga selalu ada kegembiraan dan kebanggaan tersendiri setiap kali saya menggumuli, menyetubuhi dan memuaskan nafsunya.

Satu hari Jumat, jam istirahat makan siang. Bersama seorang teman saya meluncur ke Delta Plaza. Saat lagi asyik menyantap mie goreng, ada SMS masuk ponselku. Ternyata dari Fung.

“Kho Vibi, saya di meja pojok kanan. Buat aja seperti nggak kenal, ya.”

Saya menoleh ke pojok kanan itu. Fung ada di sana bersama sekelompok teman wanita. Ada enam orang, semuanya Cina. Wow.. Cantik-cantik dan mulus-mulus. Mereka bercerita sambil tertawa-tawa dengan ceria. Fung melirik ke arahku sambil menulis SMS di ponselnya. Beberapa detik kemudian ada SMS masuk lagi.

“Pilih aja yang Kho Vibi suka.”

Aku tidak bisa lagi berkonsentrasi pada makan siangku. Mataku meneliti para wanita itu satu persatu. saya lalu teringat percakapanku dengan Fung dan Huan satu malam setelah bersetubuh dengan keduanya.

“Saya sudah punya dua wanita Cina yang cantik dan seksi”, kataku.

“Kapan dua ini akan bertambah menjadi empat?”

“Kho Vibi pingin tambah lagi”, kata Fung di luar dugaanku.

“Mudah, Kho. Akan Fung atur. Mau tambah dua atau berapa, terserah Kho Vibi aja.”

“Nggak usah khawatir”, lanjut Huan.

“Akan ada saatnya hadiah baru lagi. Tapi harus hemat-hemat tenaganya. Soalnya wanita Cina itu nafsunya gede-gede. Haha..”

Saya tidak menduga jika guyonan itu akan menjadi kenyataan. Berarti Fung sungguh-sungguh akan menepati janjinya. Mataku menangkap yang duduk di sebelah kiri Fung. Wajahnya manis imut-imut. Pandangan sekilas jelas menunjukkan sosok tubuhnya yang tinggi tetapi padat. Rambutnya panjang seperti punya Fung dibiarkan tergerai.

Lalu mataku menangkap sosok yang membelakangiku. Wanita berambut pendek itu jelas bertubuh padat. Kursi kecil merah yang didudukinya tidak mampu memuat pantatnya yang lebar itu. Yang lain-lain walaupun berwajah manis rata-rata bertubuh agak kecil, tentu tidak masuk dalam kriteria seleraku.

“Yang di sebelah kiri dan yang di depanmu”, tulisku dalam SMS untuk Fung.

Kulihat Fung membaca SMS di ponselnya dan tersenyum sekilas. Saat mereka berjalan beriringan meninggalkan mejanya, saya memperhatikan satu per satu. Tidak salah pilihanku. Si rambut panjang itu setinggi Fung. Rok sedikit di bawah lutut dan blazer biru terang itu cukup memberi gambaran bentuk tubuhnya yang seksi. Buah dadanya menonjol. Pantatnya bulat besar. Gambaran celana dalamnya sedikit terlihat.

Yang berambut pendek sedikit lebih rendah. Pinggangnya ramping dan buah dadanya besar. Dan pantatnya. Aduhai! Bulat besar dan bergoyang-goyang dengan indahnya. Lebih besar dari pantat wanita yang tinggi itu, malah lebih besar dari pantat Huan dan Fung. saya menelan liur. Fung mengedipkan matanya sekilas sambil melirikku. Mereka berlalu sementara teman makan siangku terus ngomong tanpa sadar apa yang sedang terjadi. Kembali ke kantor saya tidak bisa berkonsentrasi lagi. Kutelepon Fung.

“Gimana tadi?” tanyaku.

“Saya mau yang rambut panjang di sebelah kirimu dan si rambut pendek di depanmu itu.”

“Sudah kuduga jika Kho Vibi akan memilih yang itu”, katanya sambil tertawa kecil.

“Keduanya memang sesuai selera Kho Vibi. Yang berambut panjang namanya Cang, 28 tahun. Yang berambut pendek namanya Fenfang, seusiaku, 29 tahun.”

“Kapan ketemunya”, kataku tidak sabar.

“Haha..” tawanya renyah.

“Udah nafsu nih ye”, lanjutnya menggoda.

“Habis, montok-montok segitu”, sahutku.

“Kho Vibi harus sabar karena perlu pendekatan. Begitu berhasil, Kho Vibi akan kukabarkan. Saya yakin tidak lama”, katanya berbisik-bisik.

“Tapi, sebelum ketemu mereka kan masih ada saya sama Huan yang selalu siap.”

Sesudah pertemuan itu, setiap kali bersetubuh dengan Huan dan Fung saya selalu bertanya kapan bertemu si Cang dan Fenfang. Huan juga tidak berkeberatan bahkan bermimpi bisa bermain berlima pada satu kesempatan nanti. Ternyata penantianku tidak berlangsung lama. Tiga minggu sesudah SMS di Delta Plaza, suatu siang Fung menelponku.

“Ada khabar gembira, Kho”, kata Fung dengan suara renyah.

“Cang dan Fenfang pingin segera kenalan dengan Kho Vibi.”

“Betul Fung”, sahutku.

“Siapa dulu dong yang ngatur”, sahutnya.

“Supaya puas, nanti Kho Vibi main aja sama Cang dan Fenfang dulu. Lalu nanti berlima sama saya dan Huan jika sudah memungkinkan”, kata Fung.

“Gimana baiknya?”, tanyaku.

“Hari Jumat besok Huan akan nginap di tempatku”, katanya lagi.

“Kalian pakai aja rumah Huan, biar aman.”

“Jadi Huan udah tau?” tanyaku.

“Yah, udah”, sahut Fung.

“Keduanya udah kenalan sama Huan. Huan setuju kok, makanya ia menginap di rumahku biar kalian bisa leluasa bermain bertiga. Kami menanti Kho Vibi besok di sana. Sesudah Kho Vibi datang, saya dan Huan pergi, biar Kho Vibi leluasa menikmati Cang dan Fenfang.”

“Wuii.. Kamu hebat deh, Fung”, kataku.

“Tapi Sabtu malam tetap milikku dan Huan”, katanya.

“Hemat tenaganya, ya. saya dan Huan juga mau puas-puas.”

“Ngomong-ngomong, gimana sih sampai mereka bisa mau?” tanyaku.

“Haha..”, Fung tertawa.

“Mudah kok. Mereka tahu jika saya dan Huan itu janda-janda muda. Tapi kok selalu berseri-seri setiap awal pekan. Tahu kan, maksudku? Mereka lalu bertanya. Yah, kuceriterakan. Huan juga ceritera. Huan hebat promosinya seperti ceritanya dulu ke aku. Lama-lama keduanya tertarik dan akhirnya pingin kenalan sungguh.”

“Udah kawin keduanya?” tanyaku lagi.

“Kawin sih udah”, sahut Fung sambil ketawa lagi.

“Tapi belum menikah. Nggak apa-apa kan? Masa mau cari yang perawan.”

“Ya, nggak”, kataku.

“Tapi mau keduanya main bareng bertiga?” tanyaku lagi.

“Jangankan bertiga, berlima juga mau”, sahut Fung.

“Nggak usah khawatir Kho, keduanya orang-orang yang santai kok. Jika mau, minggu depan kita main berlima aja. Kho Vibi dilayani kami berempat khan enak.”

“Terima kasih Fung”, kataku setelah yakin.

“Akan ada hadiah untukmu.”

“Apa itu?” tanyanya.

“Dua jam tambahan di ranjang”, sahutku.

“Iihh.. Maunya”, sahut Fung sambil tertawa.

Aku menutup telepon sambil tersenyum sendiri. Babak baru pengalaman seksku akan bertambah lagi dengan hadirnya dua wanita ini. saya membayangkan nikmatnya bergumul dengan Cang dan Fenfang, kedua wanita cantik dan montok itu.

Apalagi jika menggumuli empat-empatnya bergiliran dalam satu pesta seks, pasti akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Tidak terasa, kemaluanku bergerak-gerak dalam celanaku, seakan-akan sudah tidak sabar menantikan saat-saat nikmat bersatu dengan Cang dan Fenfang yang cantik dan bahenol itu.

Jumat sore. saya menuju rumah Huan dengan jantung berdebar-debar. Ada rasa bangga yang menyelip di dadaku karena boleh menikmati kehangatan tubuh-tubuh wanita Cina yang cantik-cantik itu. Sebaliknya ada rasa cemas juga, takut ditolak karena tidak sesuai dengan harapan mereka.

Maklum, usiaku sudah 39 tahun, sebelas dan sepuluh tahun lebih tua dari Cang dan Fenfang. Apa jadinya jika saya dirasa kurang cakep dan ditolak? Wah, pasti malu sekali. Namun kupikir Fung dan Huan tidak mungkin berbohong. Bukankah keduanya sudah ketagihan dengan kejantananku?

Di depan pintu pagar saya ragu-ragu sejenak. Setelah menarik nafas beberapa kali, saya mendorong pintu yang tidak terkunci. saya masuk dan mengancing pintu pagar stainless still itu. Tanpa mengetuk, saya mendorong pintu depan. Seperti biasa, jika sudah ada janji pintu depan tidak dikunci. saya mendorong pintu dan melangkah masuk.

“Hi, sayang”, suara Huan menyambutku.

Astaga! Huan hanya mengenakan celana dalam dan BH kecil berwarna merah yang membuat buah dadanya yang montok itu seperti akan meloncat keluar. saya terpesona. Huan yang sudah puluhan kali kugumuli itu tetap tampil menawan. Tetapi yang membuatku terkejut ialah caranya berpakaian. Pasti yang lain-lain juga berpakaian seperti itu.

Apakah saya akan dilayani keempat wanita itu sekaligus? Dengan mesra Huan mengecup bibirku dan menggandengku masuk. Dan benar dugaanku, di ruang tengah telah menunggu Fung, Cang dan Fenfang, ketiga-tiganya hanya mengenakan celana dalam dan BH kecil.

Memperhatikan tubuh-tubuh montok bahenol nyaris bugil itu, nafsu birahiku langsung menggelegak butuh penyaluran. Kemaluanku langsung berdenyut-denyut di balik celanaku, tidak sabar menanti saat-saat indah menyatu dengan wanita-wanita Cina cantik bahenol ini.

Huan melepaskanku dan berdiri berjajar bersama Fung, Cang dan Fenfang. saya tertegun memandang keempat wanita ini yang mengenakan hanya BH dan celana dalam. Keempat-empatnya memakai sepatu hak tinggi sehingga menambah seksi pemandangan di depanku.

Fung yang berdiri di sebelah Huan mengenakan celana dalam dan BH berwarna hitam. Dadanya menyembul keluar dengan indahnya. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Di sebelah kiri Fung berdiri Fenfang.

Ia mengenakan celana dalam dan BH berwarna abu-abu. Rambutnya juga panjang tergerai sampai ke pantatnya. Dadanya menonjol ke depan, membusung dan dengan indahnya menyembul dari BH yang kecil. Dan.. Pantatnya itu, aduhai besarnya.

Menariknya, pinggulnya cukup ramping untuk wanita dengan ukuran pantat sedemikian besarnya. Dan akhirnya, di jangkung Cang dengan rambut di bawah pundak. Ia mengenakan celana dalam dan BH berwarna cream.

Dadanya pun montok mempesona dengan tubuh padat dan sintal. Pinggangnya melekuk dengan indahnya menuruni pinggulnya yang digantungi dua bongkahan pantatnya yang lebar, walaupun tidak selebar punya Fenfang.

Dadaku berdegup kencang, mataku membelalak dan mulutku terbuka. Mimpi apa saya semalam? Kupandangi keempat wanita Cina yang putih mulus, cantik montok dan bahenol itu dengan nafas yang menderu-deru. Keempatnya tersenyum manis.

“Selamat datang ke dunia impian”, kata Fung dengan suaranya yang merdu.

“Semua ini milikmu”, sambung Huan.

“Nikmati sepuas hati.”

“Ayolah, Kho Vibi”, kata Fung manja.

“Kenalan dong, sama si Fenfang dan Cang. Katanya pingin kenalan dengan dua cewek montok nan sexy ini. Ayo, kemarilah.”

Saya mendekat. Huan dan Fung mendekat dan mengapitiku di kiri dan kanan. Keduanya bergayut di bahuku dengan buah dada mereka yang montok kenyal itu menempel di lengan kiri dan kananku. Kedua wanita montok ini telah puluhan kali merasakan kejantananku. Sekarang mereka ingin membagi kenikmatan dengan dua teman yang lain. Aduhai! Dadaku berdegub-degub.

Fenfang mendekat. Goyangan dada dan pantatnya saja sudah mampu membangkitkan birahiku. Apalagi goyangannya di atas ranjang, pastilah membuatku terbang ke awan-awan. Kuulurkan tanganku. Ia menyambutnya hangat. Kurengkuh tubuh montok itu ke dalam pelukanku. Dadanya terasa empuk menempel di dadaku.

Tanganku melingkari pinggulnya dan meraih pantatnya yang besar itu. Kutekan pantatnya itu ke arahku dalam gerak menyerupai persetubuhan. Fenfang terkikik diiringi tawa Huan dan Fung. Saat kukecup bibirnya, terasa ada getar-getar birahi dalam desah nafasnya yang hangat.

Lalu giliran Cang. Jalannya anggun. Dengan postur tubuh setinggi itu ia lebih layak menjadi peragawati. Buah dadanya yang putih mulus dan disangga oleh BH kecil itu bergoyang-goyang dengan lembutnya. Sungguh pemandangan yang mengungkit birahi terpendam.

“Senang berkenalan dengan Mas Vibi”, kata Cang sambil menyambut tanganku.

Aku merengkuh tubuh sintal dan sexy itu ke dalam pelukanku. Ia menggeletar. Saat masih kunikmati dadanya yang empuk menempeli dadaku dan tanganku meraih-raih pantatnya, ia mendaratkan kecupannya di pipiku. Huan dan Fung bertepuk tangan.

“Nah, Kho Vibi”, kata Fung.

“Tugasku sudah selesai. Cang dan Fenfang akan menemanimu. Nikmati malam ini sepuas-puasnya. saya dan Huan akan pergi.”

“Cang, Fen”, kata Huan.

“Kami pergi ya. saya jamin deh, kalian berdua nggak bakalan kecewa. Malah ketagihan nanti. Hati-hati, jangan lupa pulang lho, besok.”

Huan dan Fung segera berpakaian dan meninggalkan ruangan. Tidak lama berselang, terdengar derum mobil Huan meninggalkan halaman rumah. saya turun dan mengunci pagar dan pintu depan. Saat saya kembali, Cang dan Fenfang sudah menantiku di pintu ruang tengah.

Keduanya langsung menyerbuku dan mendaratkan ciuman-ciumannya yang panas dan penuh gairah birahi terpendam. saya sampai kewalahan dibuatnya. Malam ini, Cang dan Fenfang sepenuhnya menjadi milikku. saya akan mereguk kenikmatan sepuas-puasnya dalam pelukan hangat keduanya.

Sambil merangkul keduanya, Fenfang di kiri dan Cang di kanan, kuajak keduanya duduk di sofa ruang tengah. Di ruang inilah dulu saya berpesta seks pertama kali dengan Huan dan Fung. Di ruang inilah pertama kali Huan dan Fung melayaniku dan menjadi ketagihan sejak itu. Kini saya ingin agar di ruang yang sama ini Fenfang dan Cang merasakan kejantananku dan selanjutnya menjadi ketagihan.

Tanpa kuminta, kedua wanita Cina yang cantik montok nan bahenol ini mulai membuka pakaianku. Satu persatu dilepaskannya sehingga yang tertinggal hanya celana dalamku saja. Kemudian serentidak keduanya mendaratkan ciuman-ciuman di pipi dan leherku hingga akhirnya mulut-mulut mungil dengan bibir-bibir sexy itu mulai mengulum puting susuku, Fenfang di sebelah kiri dan Cang di sebelah kanan.

Saya mengerang-ngerang nikmat dan dengan segera tanganku bergerilya di lekukan-lekukan tubuh keduanya. Kedua tanganku melingkar ke punggung Cang dan Fenfang lalu melepaskan kaitan BH masing-masing.

Terlepas dari BH, buah dada keduanya yang memang besar dan montok mencuat keluar dengan indahnya. Warnanya putih mulus dengan puting yang merah kecoklatan. Buah dada keduanya sudah menegang sehingga terasa padat dan empuk di telapak tanganku.

Saat tanganku mulai mengelus buah dada keduanya yang montok itu, desah nafas nikmat terdengar dari mulut keduanya. Geletar birahi sudah melanda urat nadi seluruh tubuh mereka. Serentidak tangan-tangan mungil Cang dan Fenfang menerobos celana dalamku dan berebutan menggenggam batang kemaluanku yang sudah menegang sekeras tank baja.

Saya tidak peduli tangan siapa yang mengelus batang kemaluanku dan yang lain mengusap-usap buah pelirku. Yang kurasakan hanya geletar-geletar nikmat yang menjalari seluruh bagian tubuhku dan meledak-ledak di denyutan kemaluanku.

Melepaskan kuluman di kedua puting susuku, Fenfang menyusuri perutku dan mendekati selangkanganku. Cang merayapi leherku dan mengendus-ngendus di pangkal kupingku. Tangan kiriku menyelusuri belahan buah dada Fenfang dan sejalan dengan itu bibirku merambah tonjolan buah dada Cang yang ternyata lebih besar dan lebih montok dari buah dada Fenfang. Kuremas buah dada Fenfang dan kuisap buah dada Cang. Kedua wanita Cina itu bersamaan mengerang dengan suara keras.

Sambil tetap mengisap-isapi buah dada Cang, tanganku mulai bergerilya ke balik celana dalam keduanya. Bongkahan-bongkahan pantat keduanya yang montok dan padat itu kini menjadi sasaran remasan tanganku.

Telapak tanganku terasa empuk menelusuri halus kulit dan montoknya bongkah-bongkah itu. Keduanya menggelinjang saat jari-jariku nakal menyelusuri belahan pantat yang menggairahkan itu. Keduanya bereaksi menjawab gerak tanganku itu.

Celana dalamku diperosotkan Fenfang sehingga saya telanjang. Sejalan dengan mencuatnya kemaluanku tegak ke atas laksana menara, mulut mungil Fenfang langsung menyergapnya. Kemaluanku yang sudah tegang itu berdenyut-denyut dalam mulutnya.

Sedotannya sungguh membawa nikmat tidak terkira. saya menggeram, tetapi geramanku itu tertahan di buah dada Cang yang menekan kepalaku kuat-kuat ke dadanya. Kedua tanganku dengan cepat menerobosi celana dalam keduanya dan bersarang di kemaluan masing-masing.

Tangan kiriku menggerayangi kemaluan Fenfang dan tangan kananku sibuk mencari-cari kemaluan Cang. Ternyata keduanya telah basah oleh lendir.

Cang mengaduh keras saat jemariku menerobosi liang nikmatnya itu. Jeritan Fenfang tertahan oleh kemaluanku yang telah memenuhi mulutnya. Sambil tangan kirinya terus menekan kepalaku ke arah dadanya, tangan kanannya memerosotkan celana dalamnya sendiri.

Fenfang menggelinjang-gelinjang saat tangan kiriku mencopot celana dalamnya. Kini saya bersama kedua wanita cantik itu sudah dalam keadaan bugil penuh tanpa ditutupi sehelai benang pun. Adakah sesuatu yang bisa menghalangi saya untuk menikmati tubuh-tubuh bahenol ini sekarang?

“Kita ke kamar sekarang”, kataku kepada Fenfang dan Cang.

Fenfang melepaskan kulumannya atas kemaluanku. Bertiga kami bangkit dan melangkah ke lantai atas. Kedua wanita itu bergayut di bahuku, Fenfang di sebelah kiri dan Cang di sebelah kanan. Tangan kanan Cang menggenggam dan mengusap-usap kemaluanku sehingga tetap tegang dan keras.

Buah dada keduanya menempeli lengan kiri dan kananku sementara kedua tanganku merayapi bongkah-bongkah pantat keduanya yang montok dan padat. Kedua wanita cantik itu mengikik genit dan seksi. saya tahu persis, nafsu birahi keduanya telah menggelora, tidak sabar menantikan pemuasan.

Kamar tidur Huan terasa sangat romantis dan berbau wangi. Ruangan berpenyejuk itu terasa sangat lapang. Lampu yang redup membuat suasana semakin indah. saya merebahkan tubuhku di atas ranjang.

Kemaluanku tegak menjulang dengan gagahnya, menantikan saat-saat mendebarkan, menyatu dengan kedua wanita itu bergantian. Cang dan Fenfang berdiri sejajar mempertontonkan tubuhnya yang molek padat kepadaku. Cang lebih tinggi dengan buah dada yang lebih besar dan padat.

Fenfang lebih pendek, buah dadanya juga kalah besar dari Cang, tetapi pantatnya itu! Aduhai! Lebih besar dari pantat Cang, bahkan lebih besar dari pantat Huan dan Fung. Getaran pantatnya yang besar itu jelas-jelas sangat mengungkit birahiku yang terpendam. Sambil tertawa-tawa keduanya berputar-putar, mempertontonkan kemontokan dan kemolekan tubuh bugil mereka.

Kupandang buah dada keduanya yang montok, bongkahan-bongkahan pantat yang bulat, padat dan besar. Rambut kemaluan yang hitam legam itu memberi pemandangan yang sangat indah dan kontras di atas kulit yang putih dan mulus itu.

“Udah puas lihatnya?” tanya Cang.

“Udah”, jawabku sekenanya.

Segera kedua wanita itu menerkamku di atas ranjang Huan yang lebar dan empuk itu. Spring bed itu bergetar-getar menahan gempuran keduanya. Jari-jari mungil mereka merambah dan mengelus seluruh bagian tubuhku, sementara bibir-bibir mungil dan basah itu menjelajah seluruh bagian sensitif tubuhku.

Tubuh-tubuh bugil bahenol itu menghimpitku dengan ketatnya. Kubiarkan keduanya menjelajahi tubuhku. Sentuhan-sentuhan manis itu sungguh-sungguh membawa rasa nikmat yang tidak terkira.

Cang mendekatkan buah dadanya ke wajahku. Mulutku dengan segera menangkap dan mengulum puting buah dadanya yang menegang itu. Ia mengerang keras saat lidahku mempermainkan putingnya. Sementara itu bibir dan lidah Fenfang leluasa menjelajahi sela-sela pahaku.

Batang kemaluanku yang sudah sekeras laras senapan itu terasa terpilin-pilih dalam mulutnya. Lidahnya begitu lihai mempermainkan kemaluanku itu. Pantatnya yang bulat lebar itu menjadi sasaran remasan tangan kiriku. Saat nafsu birahiku semakin menggila dan tidak tertahankan lagi, kupikir saatnya untuk menyetubuhi kedua wanita itu. saya melepaskan diri dan meminta keduanya berbaring berjajar.

“Cang duluan”, kata Fanny.

Kulihat Cang sudah menelentang dengan mata tertutup. Bibirnya sedikit terbuka dan mendesis-desis. Pahanya telah dibuka lebar-lebar. Kemaluannya merekah merah dan basah oleh cairan memeknya, dihiasi oleh bulu-bulu hitam lebat di seputarnya.

Tangan kirinya berpegangan erat dengan tangan Fenfang seakan-akan menimba kekuatan dan dukungan. Dadanya kelihatan bergemuruh oleh denyut jantungnya. Ia terlihat menahan napas. saya tahu, ia tidak sabar menantikan sensasi indah bersatu dengan diriku. Kuarahkan kemaluanku yang sudah menegang dan berkilat-kilat.

Ujung kemaluanku menguak perlahan-lahan bibir kemaluannya. Ia mendesah nikmat. Lalu perlahan-lahan saya menyuruk masuk. Mulutnya semakin lebar terbuka. Batang kemaluanku yang berkasa itu menerobos dinding-dinding memeknya yang telah basah berlendir. Saat separuh batang kemaluanku telah menerobos liang nikmatnya Cang, saya berhenti sejenak dan membiarkan dia menikmatinya.

Kulihat ekspresi wajah Cang yang menggelinjang kenikmatan. Rambut hitamnya yang terserak di bantal mempertegas ekspresi wajahnya yang putih mulus. Tangannya meremas-remas kain seprei. Dari mulutnya keluar desah-desah nikmat yang menggelora. saya tersenyum bangga, bisa menikmati tubuh wanita secantik dan semontok Cang.

Saat saya dengan hati puas menikmati ekspresi penuh kenikmatan wajah Cang, di saat itulah ciuman bibir Fenfang mendarat di belakangku, tepat di atas pantatku. saya terkejut karena geli. Reaksiku tidak terduga. saya menyodokkan kemaluanku dengan keras ke arah Cang.

Batang kemaluanku yang besar dan panjang itu dengan ganasnya menerobosi lubang surgawi Cang dan tertanam sepenuhnya di lubang yang sudah basah berlendir itu. Cang tersentidak dan membelalakkan matanya sambil mengerang hebat. Jeritannya keras dan panjang membelah udara malam yang hening itu.

“Aaohh..”, erang Cang penuh kenikmatan.

Pantatnya dihentak-hentakkan ke atas untuk menerima kemaluanku sepenuhnya. Pahanya yang padat itu membelit pinggangku, sehingga saya sepenuhnya bersatu dengan dirinya. Ia melolong-lolong seperti orang hilang ingatan. Sementara itu jilatan lidah Fenfang di seputar bokongku membuat rasa nikmat itu semakin menjadi-jadi.

Setelah berhenti sejenak dan memberi kesempatan kepada Cang untuk menikmati sensasi nikmat ini, saya mulai bergerak. Kemaluanku kugerakkan maju mundur secara berirama. Mula-mula perlahan-lahan, lalu bergerak makin cepat. Tubuh montok Cang bergetar-getar seirama dengan genjotan kemaluanku. Mulutnya terbuka dan mendesis-desis.

Melihat indahnya bibir-bibir mungil merah merekah itu, saya segera mendaratkan bibirku di sana. Kulumat habir bibir-bibir seksi itu. Cang membalas tidak kalah hebatnya. Lidahku terpilin-pilin oleh sedotan mulutnya.

Tubuhku mulai berpeluh, menetes dan menyatu dengan keringat Cang. Pahanya kini dibuka lebar-lebar sehingga saya bisa leluasa menggenjot kemaluannya itu. Kecipak bunyi cairan memeknya karena sodokan kemaluanku secara berirama menambah panas pertarungan penuh birahi ini.

“Saya mau keluar..” erang Cang.

“Ayo, Mas.. Lebih keras! Auu!!”

Mengingat masih ada Fenfang yang harus dipuaskan, saya mempercepat gerakanku agar Cang secepatnya orgasme. Benar! Dalam hitungan dua menit, Cang menjerit sekeras-kerasnya sambil menghentak-hentakkan pantatnya ke atas.

Tubuhnya menggeletar dengan hebas karena didera rasa nikmat yang luar biasa. Jeritannya itu tersekat oleh mulutku. Pahanya ketat membelit pinggangku. Tangannya memelukku seerat-eratnya. Desah puas terdengar dari mulutnya.

“Fenfang masih menunggu”, kataku mengingatkan.

Ia mengangguk dan melepaskanku. saya mencabut kemaluanku yang masih tegak keras dan berkilat-kilat karena dilumuri lendir memek Cang. Dari kemaluannya kulihat aliran lendir orgasmenya. Cang tetap berbaring dengan paha terbuka dan mata tertutup. Buah dadanya membusung ke atas, agak memerah karena remasan dan gigitanku.

Kemaluannya tetap merekah terbuka dan bergetar-getar, masih harus terbiasa dengan genjotan kemaluanku yang keras dan besar ini.

Aku menoleh dan kulihat Fenfang menatapku dengan pandangan yang menyiratkan harapan agar nafsunya pun segera dipuaskan. saya menghampirinya. Ia bergerak dan menyiapkan dirinya untuk disetubuhi. Tidak kusangka, ia langsung menungging. Rupanya ia suka doggy style penetration.

“Aku tahu, Mas Vibi suka pantatku”, katanya sambil tertawa kecil.

“Ayo, Mas! Fenfang udah nggak sabar, nih. Pengen cepat dirudal oleh penismu yang gede itu.”

“Siapa takut!” sahutku.

Karena Fenfang sudah sangat terangsang, saya tidak menunggu lama-lama. Langsung saja kuarahkan kemaluanku ke arah kemaluannya yang merekah, diapiti oleh kedua bongkahan pantatnya yang montok, padat dan lebar itu.

Sungguh pemandangan yang indah dan sangat mengungkit birahi yang terpendam. Pantat yang lebar dan mulus itu pasti menjanjikan kenikmatan yang tidak ada duanya. Bulu-bulu kemaluannya yang hitam lebat itu menutupi sedikit liang nikmat Fenfang.

Kusibak rambut-rambut itu dan tampaklah bibir-bibir memek yang berwarna merah muda, segar dan basah berlendir. Apa lagi yang bisa menghalangiku menyetubuhi si pantat besar ini?

Fenfang menurunkan kepalanya hingga bertumpu ke bantal. Pantatnya diangkat. Tangannya meremas ujung-ujung bantal itu seakan-akan mencari kekuatan. Nafasnya berdesah tidak teratur. Bulu-bulu halus tubuhnya meremang, menantikan saat-saat sensasional saat kemaluanku ini akan menerobosi lubang surgawinya.

Saya merapat. Kuelus-elus kedua belahan pantatnya yang mulus padat itu. Perlahan-lahan jari-jariku mendekati bibir-bibir memeknya yang telah basah itu. Jariku mempermainkan rambut lebat di seputar lubang itu. Fenfang mengerang-erang menahan birahinya yang semakin menggila. Pantatnya bergetar-getar menahan rangsangan tanganku.

“Ayo, Mas”, erang Fenfang.

“Udah nggak tahan nih!”

Kuarahkan kemaluanku yang masih sangat keras itu ke arah lubang kenikmatan Fenfang. Kuletakkan kepala kemaluanku di atas bibir-bibirnya. Fenfang mendesah. Kemudian perlahan tapi pasti saya mendorongnya ke depan.

Kemaluanku menerobosi lubang nikmatnya itu. Fenfang menjerit kecil sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Sejenak saya berhenti dan membiarkan Fenfang menikmatinya. Saat ia tengah mengerang-erang dan menggelinjang-gelinjang, mendadak saya menyodokkan kemaluanku ke depan dengan cepat dan keras. Dengan lancar batang kemaluanku meluncur ke dalam liang memeknya. Fenfang tersentidak dan menjerit keras.

“Ampunn, Mas!” jerit Fenfang.

“Auu..!!”

Di saat itu terdengar telepon berdering. Siapa sih yang nelpon malam-malam begini? Cang beranjak menerima telepon ini. Sambil terus menggenjoti kemaluan Fenfang, saya menangkap pembicaraan itu.

“Eh, Fung”, kata Cang.

“Tuh lagi asyik di sana. Fenfang sampai menjerit-jerit tuh. Bisa dengar kan? Ya.. saya sampai orgasme berulang-ulang lho. Mas Vibi memang jagoan deh. Ok.. saya ke sana.”

Cang membawa cordless telepon itu ke samping ranjang. Ia mendekatkannya ke kepala Fenfang yang menjerit kenikmatan. Rupanya Huan dan Fung ingin mendengarnya juga. saya terpacu untuk menunjukkan kejantananku.

Maka saya mempercepat genjotan kemaluanku di memek Fenfang. Kujambak rambutnya sehingga wajahnya mendongak ke atas. Semakin keras dan cepat genjotanku, semakin keras erangan dan jeritan Fenfang. Bunyi hentakan pantatnya semakin memukau. Akhirnya kurasakan lahar sperma di kemaluanku akan memuncrat. Maka saya mempercepat kocokanku, biar Fenfang duluan orgasme. Benar!

“Aa..h.!” jerit Fenfang.

“Aah.. saya keluar! saya keluar!”

Diiringi jeritan kerasnya, tubuh Fenfang menggeletar hebat didera rasa nikmat orgasme yang tidak terkatakan. Punggungnya melengkung ke atas dan mengejang. Hentakkan pantatku membenamkan kemaluanku dalam-dalam ke memek Fenfang.

Dinding liang kemaluannya itu terasa menjepit batang kemaluanku, mengiringi muntahan spermaku memenuhi lubang kenikmatannya. Tanganku mencekal pahanya yang padat itu dan menarik erat-erat ke arah kemaluanku, sehingga kemaluanku yang kubanggakan itu terbenam sedalam-dalamnya di kemaluan Fenfang.

Punggung Fenfang yang padat berisi itu bersimbah peluh. Rambutnya melekat. Ia mencengkam seprei kuat-kuat seakan-akan hendak menimba kekuatan dari sana, menahan deraan rasa nikmat yang melanda sekujur tubuhnya.

Rasa nikmat yang sama menjalari tubuhku, diimbangi oleh rasa bangga karena bisa beradu birahi dengan dua wanita Cina yang yang cantik dan bahenol. Kebanggaanku menjadi lebih lengkap karena keduanya sudah meraih orgasme berkat kejantananku.

“Udah dulu ya, Mbak”, suara Cang membuyarkan lamunanku.

“Fenfang udah keluar, tuh! saya mendingan mandi, deh! Sebentar lagi pasti giliranku.” Rupanya ia mengobrol dengan Huan dan Fung lewat telepon.

Rasa bangga menjalari kepalaku mendengar ucapan Cang itu. Sambil tetap membiarkan kemaluanku menancap di tubuh Fenfang, saya menoleh ke arah Cang. saya tersenyum, ia membalasnya. Ia mendekatiku dan mendaratkan bibirnya di bibirku.

Kami berpagutan erat sementara tubuh Fenfang yang masih menyatu dengan tubuhku terus menggeletar menggapai sisa-sisa kenikmatan. Oh, malam yang teramat indah dan akan kukenang seumur hidupku.

“Oh! Nikmatnya!” kata Fenfang.

“Aku belum pernah sepuas ini!”

“Aku juga”, sahut Cang.

“Luar biasa Mas Vibi ini!”

Saya mencabut kemaluanku dari kemaluan Fenfang. Kuperhatikan liang memeknya yang dipenuhi spermaku bercampur cairan kemaluannya, menetes jatuh membasahi pahanya. Kami bertiga rebah di atas ranjang. Kedua wanita itu menempel lekat, Cang di sisi kiriku dan Fenfang di sisi kananku. Ciuman hangat mendarat di kedua pipiku. Sekitar lima belas menit kami hanya berbaring diam melemaskan badan, mereguk sisa-sisa kenikmatan dan menghimpun tenaga.

“Mandi, yuk!” ajak Cang.

Bertiga kami beralih ke kamar mandi. Seperti dengan Huan dan Fung dulu, kamar mandi itu berubah menjadi arena pemuasan nafsu birahi. Cang dan Fenfang memandikanku. Keduanya menyabuniku bukan dengan tangan. Cang sibuk menyabuni seluruh bagian belakang tubuhku dengan buah dadanya, sementara Fenfang menyapu bersih seluruh bagian depan tubuhku dengan pantatnya yang lebar.

Ruang kamar mandi itu dengan segera dipenuh oleh gelak tawa dan gurauan-gurauan yang membangkitkan birahi. Gesekan-gesekan, rabaan-rabaan dan remasan-remasan tidak ayal lagi merangsang nafsu terpendam.

Saat ledakan-ledakan nafsu itu tidak tertahankan lagi, jalan satu-satunya ialah menyetubuhi kedua wanita itu bergiliran. Maka dinding-dinding kamar mandi itu pun menjadi saksi bisu saya beradu nafsu syahwat dengan Fenfang dan Cang.

Fenfang minta disetubuhi duluan. saya duduk di tepi bathtub dengan kemaluanku mengacung tegak ke atas. Cang merangkulku dari belakang sehingga buah dadanya yang padat itu menempel erat di punggungku. Fenfang mengangkangkan pahanya dan mendekatiku dari depan, siap-siap untuk disetubuhi.

“Mas Vibi pasti bangga ya, dilayani oleh dua cewek bahenol”, kata Fenfang tersenyum.

“Jelas dong”, sahutku.

“Bayangkan! Dua cewek Cina, putih mulus, cantik dan bahenol, bisa kusetubuhi bergantian dalam semalam.”

“Apa yang paling Mas Vibi suka”, sahut Cang.

“Saya dan Fenfang kan sama saja dengan wanita-wanita yang lain.”

“Oh, jelas beda” jawabku.

“Saya suka wanita yang bahenol dengan buah dada dan pantat yang besar. Jelas, kalian berdua masuk dalam kriteriaku. Yang kedua, saya terobsesi untuk bersetubuh dengan wanita-wanita Tionghoa. Putih, mulus dan halus. Awalnya sih pingin tau aja, senikmat apa sih bersetubuh dengan wanita-wanita Cina. Eh, ternyata luar biasa nikmatnya. Jadinya ketagihan”

“Ah, Mas Vibi aja ada”, kata Fenfang mencubit lenganku.

“Kita akan saling memuaskan”, kata Cang.

“Mas Vibi membutuhkan tubuh kami sedang kami membutuhkan kejantananmu.”

“Hahaa..” bertiga kami tertawa bareng.

Fenfang yang sudah duduk di pahaku merapatkan tubuhnya. Kemaluanku yang sudah tegak tanpa halangan langsung menembus kemaluannya, bersarang sedalam-dalamnya. Ia segera menggoyang pantatnya dengan liar sambil melenguh-lenguh nikmat.

Kedua buah dadanya diarahkan ke mulutku. Dengan buas kuterkam keduah buah dada yang bergoyang-goyang itu. Fenfang mengerang keras. Nafsunya semakin melonjak mendekati orgasme.

Ia semakin liar. Kepalaku ditekan keras-keras ke dadanya sehingga terbenam di buah dadanya yang empuk. Sementara itu, Cang juga terus menekan-nekan dadanya ke arah punggungku. Jadinya dua pasang buah dada sungguh memanjakanku. Huu.. Seru! Fenfang yang sudah terangsang hebat cepat sekali mencapai orgasmenya. Badannya mengejang-ngejang diiringi erangan kenikmatan.

“Auu.. Mas!” jerit Fenfang seraya mengerkah bahuku.

Jeritan kenikmatannya tersekat di sana. Untuk beberapa saat kami terdiam. Ia memelukku erat-erat menggapai kekuatan menahan deraan kenikmatan yang menerpa tubuhnya. Perlahan ia melepaskan tubuhku dan dengan lemas mencebur ke dalam bathtub yang sudah terisi air hangat.

“Sekarang giliranku, Mas”, kata Cang.

Ia langsung berdiri dan bersandar ke wastafel dan menaikkan pantatnya, siap menerima batang kejantananku dalam doggy style penetration. Sejenak saya menikmati bayangan indah di cermin. Rambut Cang yang panjang dan awut-awutan itu menggantung. Matanya tertutup sambil agak menengadah. Bibirnya yang merah mungil itu agak terbuka, menghiasi wajahnya yang cantik.

Wajah itu jelas memancarkan gelora birahi yang menggila dan butuh pemuasan. Buah dadanya yang ranum besar itu menggelantung dengan indahnya, bergerak naik turun seirama nafasnya yang memburu.

Tangannya bertumpu pada tepi wastafel. Pahanya sudah membuka lebar, memperlihatkan celah kemaluannya yang seperti berteriak tidak sabar. Rambut kemaluannya yang basah itu melekat di pinggir mulut gua gelap itu.

Aku mendekatinya. Tanganku menyapu lembut kulit pantatnya yang mulus tapi padat. Dari bayangan cermin kulihat Cang menggigit bibirnya dan menahan napas, tidak sabar menanti penetrasi batang kejantananku. Tanganku melingkari kedua pahanya lalu kuarahkan kemaluanku ke lubang kenikmatannya.

Perlahan-lahan ujung kemaluanku yang melebar dan berwarna merah mengkilap itu menerobosi kemaluannya. Cang mendongak dan dari mulutnya terdengar desisan liar. Sejenak saya berhenti dan membiarkan ia menikmatinya lalu mendadak saya menghentakkan pantatku keras ke depan. Sehingga terbenamlah seluruh batang kejantananku di liang kewanitaannya.

“Aacchh..!!”, Cang mengerang keras.

Aku menjambak rambutnya sehingga wajah yang cantik itu mendongak ke atas. Sambil terus menggenjot kemaluannya, saya menikmati perubahan mimik wajahnya menahan rasa nikmat yang bergelora dan menjalari seluruh tubuhnya. Wajahnya yang memerah itu dialiri butiran-butiran keringat. Kedua buah dadanya berguncang-guncang seirama dengan gerakan keluar masuk kemaluanku di liang nikmatnya.

Bunyi kecipak cairan memeknya terdengar merdu berirama, diiringi desahan dan lenguhan yang terus menerus keluar dari mulutnya yang mungil. Melihat itu saya semakin bernafsu. saya mempercepat gerakan pantatku. Kemaluanku terasa semakin membesar dan memanjang. Erangan dan lenguhan Cang berubah menjadi jeritan histeris penuh birahi yang meledak-ledak.

“Oohh..! Lebih keras!” jerit Cang.

“Ayo, cepat. Cepat. Lebih keras lagii!”

Keringatku deras menetesi pungguh dan dadaku. Wajahku pun telah basah oleh keringat. Rambut Cang semakin keras kusentak. Kepalanya semakin mendongak. Dan dengan satu sentakan keras, saya membenamkan kemaluanku sedalam-dalamnya.

Cang menjerit karena orgasme yang menggelora. Kusentakkan tubuh Cang ke atas. Kedua tanganku menggapai kedua buah dadanya dan meremas-remas dengan penuh nafsu. Ia pun menghentakkan pantatnya ke belakang agar lebih penuh menerima batang kemaluanku. Pantatnya bergetar hebat. saya menggeram seperti singa lapar.

Di saat itulah kurasakan spermaku menyemprot dengan derasnya ke dalam rahim Cang. Rasanya tidak ada habis-habisnya. Dinding-dinding memek Cang menjepit kemaluanku. Rasanya seperti terpilin-pilin. Tangan Cang melemah dan ia pun merebahkan dirinya di atas keramik lebar samping wastafel.

Saya pun rubuh menindih tubuhnya. Beberapa lama kami diam di tempat dengan kelamin yang tetap bersatu sepenuhnya, menggeletar dan mengejang, mereguk segala kenikmatan yang hanya bisa ditemukan dalam persetubuhan.

“Udah waktunya mandi, Mas, Mbak Cang”, kata-kata Fenfang menyadarkan kami berdua.

Saya membimbing Cang yang masih lemas didera rasa nikmat orgasmenya. Bertiga kami berendam di dalam bathtub mewah dalam kamar mandi Huan yang lapang ini. Dengan penuh kelembutan keduanya memandikanku, membersihkan seluruh peluh yang melekat di badanku, mencuci bersih kemaluanku.

Benar kata Fung. Cang dan Fenfang tidak mengecewakan. Malah harus kuakui, permainan seks kedua wanita ini jauh lebih menggairahkan. Menikmati tubuh keduanya saja sudah begini menFungangkan. Bagaimana jika mereka berempat, Huan dan Fung serta Cang dan Fenfang bersama-sama melayani dalam semalam? Sesudah malam ini, hari-hari selanjutnya pasti akan sangat menFungangkan.

Bagai menbisa durian runtuh, demikian kata pepatah lama. Bagaimana tidak. Empat wanita Cina yang cantik bermata sipit dengan tubuh yang montok dan bahenol siap saya setubuhi kapan saja. Ooh, betapa beruntungnya aku.

“Mikiran apa, ayo”, kata Fenfang membuyarkan lamunanku. Ia tersenyum.

“Saya berpikir, gimana rasanya jika dalam semalam saya menyetubuhi kalian berdua serta Huan dan Fung bergantian ya?” kataku.

“Ih maunya”, sahut Fenfang.

“Itu bisa saja, Mas”, sahut Cang sambil menyiramkan air hangat ke bahuku.

“Huan dan Fung udah berencana kok. Pasti kita akan main berlima. saya yakin, Mas Vibi tidak keberatan. Ya kan?”

“Siapa yang nolak”, sahutku.

“Apalagi dilayani oleh empat wanita Cina yang cantik-cantik dan montok-montok ini.”

“Itulah manfaatnya mempunyai sahabat”, sahut Fenfang.

“Bisa berbagi suka dan duka.”

“Benar kata Fenfang”, timpal Cang.

“Kami semua mapan secara ekonomis. Begitu juga karier. Selama ini kami tidak pernah merasa perlu berbagi kegembiraan. Sekarang semua itu terjadi, berkat bantuan Mas Vibi. Karena di sini kami berempat telah berbagi kenikmatan!”

“Jadi inikah makna persabahatan itu?” tanyaku dalam hati.

Apapun jawabannya saya tidak peduli. Malam itu sungguh menjadi malam yang tidak terlupakan. Kami bersetubuh sampai pagi, sama-sama tidak menyia-nyiakan kesempatan membagi rasa nikmat hubungan kelamin satu sama lain.

Pagi hari, Huan dan Fung kembali. Setelah menyelesaikan ronde terakhir persetubuhan pagi itu, kami bertiga bergabung dengan Huan dan Fung menikmati sarapan pagi. Wajah Cang dan Fenfang terlihat sayu karena kurang tidur tetapi jelas berbinar-binar karena kepuasan yang telah mereka peroleh.

“Kho Vibi”, kata Fung.

“Benarkan kataku jika saya ini sahabat sejati. Sesuatu yang indah dan nikmat itu jika dibagi-bagi akan menjadi lebih indah dan nikmat.”

“Betul kata Fung”, tambah Huan.

“Tapi malam ini milik saya dan Fung, kan?

“Tentu”, sahutku pendek sambil menyeruput kopiku.

“Pokoknya mulai sekarang, kapan saya Mas Vibi pengen, kami pasti bersedia”, tambah Fenfang.

“Kecuali jika lagi menstruasi tentunya. He.. He.. He..”

“Gimana Cang?” tanyaku.

“Saya setuju”, sahut Cang.

“Sahabat sejati selalu memberikan yang terbaik kepada para sahabatnya. Kami berempat adalah teman-teman lama. Kini menjadi berlima bersama Mas Vibi. Orang lain saling membagi harta dan ceritera. Kita saling membagi rasa nikmat hubungan kelamin. Kami berempat ini milikmu. Gimana?”

“Setujuu..!!” sahut Huan, Fung dan Fenfang.

Saya hanya tersenyum bangga. Mataku menatap langit-langit diiringi derai tawa keempat wanita cantik nan bahenol itu. Ada makna baru persahabatan bagiku sekarang!

<center>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*