Willy Cocok Jadi Artis Bokep | Sex Terbaru
Situs BandarQ

Willy Cocok Jadi Artis Bokep

<center>

Ini cerita mengisahkan seorang cewek yang sedang ikut casting untuk mendapatkan peran yang sesuai kriteria, pagi pagi wanita yang bernama Willy datang di sebuah perusahaan dan menemui bapak yang bernama Angga, ketemulah mereka berdua di tempat kantor Angga bekerja dia adalah manager casting perusahaan tersebut.

cerita sex terhot 2018, cerita mesum di kantor, cerita pemain bokep, cerita dewasa terbaru, cerita ngentot di kantor, casting pemain film porn, ngentot wanita seksi, seks dewasa terpanas, kentu cewek hot, ML di kantor, cewek hot nyepong kontol

cerita sex terhot 2018, cerita mesum di kantor, cerita pemain bokep, cerita dewasa terbaru, cerita ngentot di kantor, casting pemain film porn, ngentot wanita seksi, seks dewasa terpanas, kentu cewek hot, ML di kantor, cewek hot nyepong kontol
“Namanya siapa?” kata Angga lalu duduk dan mengambil setumpuk kertas di mejanya.
“Willy, lengkapnya Erma Willyana.” jawab gadis itu.
Angga lalu mencari file gadis itu di tumpukan kertas yang dipegangnya.

“Tinggi 170 cm, berat 50 kg, usia 20 tahun,” Angga mengguman sendiri membaca data di depannya.
“Pernah main Sinetron atau pementasan sebelumnya?”
“Belum pernah.”
“Kamu tahu bakat kamu apa?”
“Aku dapat menyanyi, tenis dan bakat yang terbesar menurut aku adalah akting.”

“Kok tahu bakatnya akting?”
“Aku ahli mempermainkan perasaan orang Pak,” jawab Willy sambil tersenyum malu mengakui kalau ia sering mempermainkan orang.
“Bapak dapat buktikan sendiri,” tambahnya.
“Mempermainkan bagaimana maksudnya?”
“Aku dapat pura-pura menangis, sampai keluar air mata. Aku juga dapat marah atau membentak-bentak orang padahal dalam hati sih biasa aja.”

“Oke.. aku ingin lihat itu, tetapi nanti saja..!”
“Oh ya, Kamu panggil saja aku Angga. Tak usah terlalu formal OK..!” tambah Angga.
“Iya Pak.”
“Tu kan..!”
“Oh iya.” tersipu Willy, ternyata ia masih memanggil Angga dengan Pak.
“Baik Ga.!” kata Willy terlihat canggung waktu mengucapkannya.
“Ha.. ha.. ha.. ha..!” berderai tawa Angga melihat keimutan gadis di depannya.

“Cantik juga gadis ini, seksi, lugu, kulitnya putih. Wajahnya sangat keibuan, mirip Nia Daniati. Tubuhnya memang langsing tetapi toketnya montok juga. Andai saja ia istriku, pasti aku sarungan terus. Ha.. ha.. ha.. ha.. ha.. Kira-kira ia mau nggak ya?” Angga berkata dalam hatinya sambil tersenyum-senyum.

“Coba aja ah..!”
“Ya Ga?” Willy memajukan kepalanya, disangka Angga berkata padanya.
“Oh nggak..!”

“Kamu benar-benar ingin peran ini?” tanya Angga.
“Sangat ingin Ga..”
“Kamu tahu peran utama di film ini?”
“Tahu, yaitu seorang Gadis yang mengandung sebab diperkosa, lalu memilih untuk membesarkan anaknya sendiri,” jawab Willy.

“Pada adegan perkosaan, kamu mau memerankan sendiri tanpa pemain pengganti?” Angga ingin mengetahui keberanian gadis itu.
“Mau Ga.”
“Tak pa-pa sama keluarga?”
“Nggak..” Willy memang dari keluarga liberal. ia mengabiskan masa SMA-nya di USA mengikuti ayahnya dinas.
“Ternyata kamu memang ingin sekali peran ini ya?”
“Iya Ga, aku mau peran ini sebagai awal dari karirku di dunia film.”

“Apakah kamu tahu pendatang baru di dunia film mau melakukan apa saja untuk dapat peran?”
“Aku tahu Ga, Aku juga mau melakukan apa saja agar diterima.”
“Aahhh..! Benar kamu mau?”
Willy mengangguk.

“Kamu bersedia kalau diminta berhubungan seks?”
“Bersedia Ga.”
“Kalau diminta mengulum kontol, sorry nih ya, apakah mau juga?” tanya Angga sambil tersenyum. Angga merasa kontolnya mulai berdenyut-denyut.
“Mau Ga..”
“Kok mau?”
“Habis Angga ganteng sih, Ha.. ha.. ha.. ha.. ha..” tawa Willy berderai mendengar jawabannya sendiri. Angga pun tertawa mendengarnya.

“Entar kamu lapor polisi.”
“Kok lapor polisi, kan dua-duanya senang,” jawab Willy sambil tersenyum.
“Apakah kamu pernah melakukan sebelumnya?”
“Dua-duanya pernah Ga.”
“Maksudnya?”
“Ya melakukan seks pernah, mengulum kontol juga pernah.”
“Ooohh.. dengan siapa?”
“Dengan pacar,” jawab Willy.
“Di mana?” Angga tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang kisah seks Willy.
“Di rumah, 2 tahun yang lalu waktu semuanya lagi pergi.”
“Awalnya gimana?” lanjut Angga lebih semangat.

“Waktu itu kami ganti baju untuk berenang, tetapi sebab ganti bajunya bareng satu kamar, kami jadi sama-sama terangsang. Terus mulai deh kami bercumbu dan akhirnya kami berhubungan seks.”
Angga merasakan kontolnya semakin keras. Ingin rasanya menyelipkan kontolnya dalam memek milik gadis cantik di depannya.

“Kamu mau nggak menceritakan secara lengkap?”
“Kok gitu Ga?”
“Kok gitu gimana?”
“Kenapa… kenapa nggak kita aja yang melakukannya?” kata Willy. Willy merasa dengan begitu maka peran itu pasti jatuh ke tangannya.
“Ooohh, aku ingin dengar cerita kamu dulu aja deh.”
“Diringkas aja ya Ga?”
“Iya..!” jawab Angga tak sabar.

“Kami waktu itu akan berenang, rencananya mau ganti baju renang di kamarku. Setelah masuk kamar, kami mulai membuka baju. Aku membuka lemari pakaian, lalu membuka kaos dan celana pendekku. Sehingga aku tinggal memakai baju dalam saja.

Risih juga berpakaian seperti itu di depan orang lain. Tetapi ini kan pacarku, jadi ya kupikir tak apa-apalah. Aku melirik ke samping, terlihat pacarku sudah membuka seluruh pakaiannya dan tinggal mengenakan celana dalam saja. Berdesir juga tubuhku. Aku merasa bibir kemaluanku mulai berdenyut, “Willy menggigit bibirnya.

“Kalau tak ingat aku ini perempuan pasti langsung kudatangi dia. Kuputuskan untuk lanjut mencari baju renang. Ketika sedang memilih baju renang yang merah atau yang biru, kudengar pacarku melangkah mendekat.

Makin dekat dan makin dekat, lalu terasa hembusan nafasnya di leher ini. Waktu itu aku merasa tegang sekali, menduga-duga apa yang akan ia lakukan. Jantungku berdetak kencang dan memek ini sepertinya berdenyut-denyut,” kata Willy sambil memegang rok bawahnya.

“Tiba-tiba ia menelusupkan tangannya di antara pinggang, memelukku dan merapatkan badannya, sehingga punggungku dan dadanya bersentuhan. ia mencium telingaku, gelii banget..” Willy berkata sambil mengangkat pundaknya seakan ia sedang kegelian di bagian telinga.

“Dia mempererat pelukannya sehingga dadanya makin rapat ke punggungku. Ciumannya lalu turun ke leher, rongga memekku rasanya makin berdenyut dan rasanya agak basah di bibirnya. Lalu pantatnya mulai bergerak-gerak digesekkan naik turun ke pantatku.

Terasa benjolan kontolnya di antara belahan pantatku. Selama itu aku diam saja sebab tak tahu harus bagaimana. Setelah beberapa menit ia membalikkan badanku sehingga kami saling berhadapan.”

“Diciumnya bibir ini, kami saling berpagutan. Lidah kami saling bersentuhan, kadang bibirku disedot, kadang digigit. Nikmat sekali rasanya. Tak pernah aku merasa sesenang itu. Tiba-tiba ia melepaskan ciumannya dan membopong tubuh ini.

Digendong ke arah tempat tidur. Aku direbahkan, sebenarnya malu juga terlihat dalam keadaan seperti ini dari depan tetapi sebab aku juga sudah terangsang aku mau aja,” Willy berhenti sebentar. Tak lama ia melanjutkan lagi.

“Pacarku lalu membuka bra-ku dilanjutkan dengan celana dalam. Pada saat dibuka gesekan antara tangannya dan kulitku menimbulkan perasaan yang nikmat sekujur tubuh. Aku merapatkan pahaku sebab aku benar-benar malu.

Melihat itu pacarku lalu memegang pahaku dan membuka secara perlahan lalu ia bilang jangan tutupi keindahan tubuhmu, selain itu aku kan pacarmu,” Willy berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi ceritanya.

“Pahaku membuka begitu juga memekku, aku mencoba melihat apa yang terjadi pada kemaluanku saat terangsang. Kulihat warnanya menjadi lebih merah, bibir luarnya telah membuka dan kurasa memekku lebih tebal dari biasanya. Terlihat ada lendir yang menetes keluar,” Willy lalu menyilangkan kakinya.

“Setelah itu, ia pegang bahuku. ia pegang dan belai rambutku yang terurai di bahu. Perlahan-lahan dilepaskan celana renang dan celana dalamnya. Kulihat tubuh pacarku yang telanjang di depanku. ia lingkarkan tangan di pinggang dan mulai mendekapku lembut. Kami berpelukan dan bertautan bibir sambil jari-jarinya meraba dan menggosok seluruh badan.”

“Kok lama amat sih pemanasannya? Kapan kontolnya masuk ke memekmu?” Angga sudah tak sabar.
“Ceritanya lebih cepet dong..!” tambahnya lagi.
“Tuh kan, nggak sabar. Sudah kontol kamu aja yang diselipkan. Setelah itu terima aku main di film,” kata Willy. Selain ia ingin kepastian dapat peran, ia juga merasa terangsang mendengar ceritanya sendiri. Terasa memeknya sudah lembab.

“Oooh nggak.. nggak..! Lanjutin aja. Aku pengen tahu bagian memekmu meremas-remas kontol pacarmu.”
“Kalau itu yang kamu mau!” Willy membenarkan letak duduknya dan melanjutkan ceritanya.

“Setelah itu ia mengusap kedua toketku. Diremas dan dipermainkan putingnya sambil menggesek-gesekan batang kontolnya ke perutku. Lalu ia mencium toketku, perlahan diturunkan ciumannya ke bawah. Bibir kemaluanku dijilat, dijulurkan lidah dan menusuk ke dalam lubang memekku.

Dijilat, terus jilat dan dijilat sambil tangannya meremas-remas puting toketku. Aku terus melihat ke bawah mengamati perubahan yang terjadi di kemaluan ini. Setiap lidahnya dijulurkan ke dalam, maka memekku makin terbuka. Bibir memekku ditarik oleh giginya, rasanya sakit tetapi nikmat maka memekku akan monyong ikut tertarik. Kelihatan memekku berdenyut setiap lidahnya mengusap permukaan klitorisku..”

“Setelah sekian menit dalam posisi ini, ada rasa yang tak pernah aku alami sebelumnya. Sangat nikmat. Otot memekku seperti tersedot-sedot. Rasanya aku ingin menjerit-jerit dan berteriak untuk melampiaskan nikmatnya. Aku baru tahu kalau itu yang namanya orgasme,” lalu Willy terdiam seperti mengenang saat-saat itu.

“Jangan bilang kalau ceritanya sudah selesai, mana cerita kalian berhubungan seks dan kamu mengulum kontolnya?” Angga curiga cerita Willy telah selesai melihat Willy diam.
“Kok kamu diam sih..? ia kan belum orgasme. Mana mau ia cuma muasin kamu aja. ia pasti ingin juga ngerasain orgasme,” lanjut Angga agar Willy melanjutkan ceritanya.
“Itu kamu tahu. Kamu aja deh yang ngelanjutin,” sahut Willy sambil tersenyum.
“Waduh..! Kamu ngerjain aku ya? Ya nggak mau dong..!” jawab Angga ikut tersenyum.

“Hi.. hi.. hi.. hi.. hi..” berderai tawa Willy melihat reaksi Angga. Lalu Willy menarik napas sebentar dan melanjutkan ceritanya.

“Lalu ia merebahkan badanku ke kasur. Didekatkan pinggulnya ke selangkanganku. Pahanya berada di bawah pahaku. Aku tahu ia akan memasukkan kontolnya.

Sesungguhnya aku tak tahu apakah aku juga menginginkan hal itu. Terasa kepala kontolnya sudah menempel di bibir memekku. Geli juga rasanya. Tiba-tiba aku tersentak sebab rongga memekku terasa penuh. Tak jelas rasanya, antara perih dan nikmat..”

“Memek kamu memijat-mijat kontolnya tidak?” tanya Angga bersemangat. ia membayangkan nikmat yang dirasakan pacar Willy.
“Ya nggak tahu dong. Kan ia yang rasain,” jawab Willy.
“Kalau yang aku rasain, memek aku berdenyut-denyut, dan hangat sekali. Aku mencoba mendongakkan kepala melihat ke memekku, kemaluanku lebih menggelembung dan tebal. Kulihat juga pacarku memaju-mundurkan kontolnya ke dalam memekku. Memekku akan monyong setiap ia menarik kontolnya dan akan ikut masuk setiap ia menekan kontolnya.”

“Pacarku mendongakkan kepala dan memejamkan matanya. Peluh membasahi seluruh tubuh dan wajahnya. Makin lama rasa perih di kemaluanku makin hilang, yang tersisa hanyalah rasa nikmat yang luar biasa. Aku pun ikut menaik-turunkan pantatku berkebalikan arah dengan gerakan pacarku. Setiap permukaan memek dan klitorisku menyentuh pangkal kontolnya rasanya indah sekali..”

“Setelah itu yang kutahu aku memejamkan mataku, lalu aku merancau tak menentu. Hingga kurasakan rasa yang tadi kualami, memekku kembali seperti disedot-sedot. Aku berteriak dan menggigit bibirku. Rasanya lebih nikmat dari orgasme pertamaku. Tak lama pacarku juga berteriak. Ouughh katanya,” Willy tersenyum ketika ia menirukan ucapan pacarnya.

“Terasa hentakan di memekku. Pacarku menekan kontolnya sedalam mungkin ke memekku, sambil badannya terhentak-hentak. Terasa tembakan pejuh di ujung dalam kemaluanku sekitar 7 kali. Hangat sekali”

“Untuk berapa lama, kontolnya tetap terselip di memekku. Sepertinya kami berdua tak mau memisahkan kemaluan kami, kalau kata pacarku sih. Pejuhnya dan cairanku telah jadi lem. Ha.. ha.. ha.. Pacarku memang garing Ga,” berderai tawa Willy.

“Lalu cerita aku mengulum kontolnya terjadi setelah kami selesai bereng..” belum selesai Willy bicara Angga memotong ucapannya.
“Cukup.. cukup.. Aku sudah nggak kuat nih. Bagian kamu mengulum kontol dipraktekin aja. Aku janji deh kamu bakal dapat peran itu.”

Mata Willy langsung berbinar. Daripada mulut ini capek dipakai untuk bicara lebih baik dipakai untuk bekerja. Ternyata mulut seorang wanita dapat membantu kariernya.

“Ayo kita mulai,” lanjut Angga.
“Bagaimana awal ceritanya?” Angga berdiri mendekat ke arah Willy. Celananya tak dapat menutupi kontolnya yang ereksi, sehingga terlihat tonjolan di situ.

“Kami waktu itu berenang tak memakai baju. Jadi..” Willy berkata sambil jarinya memberi kode agar Angga membuka bajunya.
“Oh ya.. tentu saja,” jawab Angga sambil membuka kancing baju lalu reitsleting celananya. Dilepas semuanya. Setelah itu celana dalamnya. Kontolnya sudah penuh, keras dan tegak menunjuk ke arah Willy. Willy lalu membuka bajunya. Dilepas satu-satu seluruh kain yang melepas di badannya.

“Willy..! memekmu tebal sekali.” Angga terkejut melihat montoknya memek Willy.
“Nggak pernah aku lihat yang seperti kamu..”
“Willy..! Enggak usah dikulum deh. Kita ngeseks aja yuk..”
“Kamu mau dong..! Aku nggak tahan melihat itumu. Sudah pengen nyelipin kontol ke situ nih,” kata Angga sambil mengusap-usap kontolnya.

“Tentu aku setuju Ga. Dua-duanya kan jadi ngerasain nikmat.”
“Sekarang kamu naik ke atas sofa,” perintah Angga sambil membuang semua benda yang ada di sofa ruang kantornya.

Willy melangkah ke arah sofa. Direbahkan badannya perlahan, posisinya kini terlentang menghadap ke Angga. Pahanya dibuka mempertunjukan seluruh alat kemaluannya. Bibir memeknya telah membuka, merekah sehingga bagian dalam dari memeknya terlihat jelas. Merah, basah dan berdenyut. Tentu nikmat sekali merasakan pijitan otot-otot di memek itu.

“Uoogh…” tanpa terasa mulut Angga mendesah takjub menyaksikan keindahan bukit kemaluan yang tebal itu. Belahan bibir kemaluannya yang sedikit kecoklatan terlihat sangat tebal membentuk sebuah bukit kecil. Bibir luarnya masih terbuka seakan memanggil-manggil Angga untuk menikmati.

Melihat hal itu, Kontol Angga semakin tegang. ia ingin sekali memasukkan kemaluannya ke lubang memek yang ada di depannya, merasakan jepitan dan pijitannya. Jelas sekali Angga melihat memek itu berdenyut-denyut. “Terbayang betapa nikmatnya kalau kontolku dapat masuk ke situ,” guman Angga dalam hatinya.

Angga mendekat dan berlutut di selangkangan Willy. Lalu tangan kirinya merekahkan bibir kemaluan Willy, sedangkan tangan kanannya mengarahkan kontolnya agar arahnya tepat. Dengan lembut Angga menyelipkan kontolnya ke dalam kemaluan Willy yang basah. Angga berhenti sejenak ketika kepala kontolnya masuk 1/4. ia memejamkan matanya menahan nikmatnya perasaan saat itu.

“Uughh…” ujar Angga.
Perasaan luar biasa ketika kepala kontolnya menggesek bibir memek Willy. Willy mungkin mengira batang kontol itu akan dimasukkan seluruhnya, sebab begitu kepala kontol menyelip di antara bibir kemaluannya terlihat ia membuka kedua pahanya lebar-lebar. Tetapi ternyata Angga menghentikan gerakannya.

“Lagi Ga, masukin lagi..!” Willy merengek ketika mengetahui Angga menahan gerakannya.
“Jangan berhenti Ga.. masukin semuanya,” Willy merengek lagi sebab Angga masih memejamkan mata menikmati 1/4 kontolnya yang sedang diremas-remas oleh otot memek Willy.

Angga yang memang ingin seluruh bagian kontolnya menikmati pijitan tentu saja mengikuti permintaan itu, ia lalu menekan kontolnya lebih dalam perlahan-lahan sampai akhirnya semuanya masuk.

“Ouugghh..!” Angga melenguh ketika pangkal kontolnya menyentuh lubang kewanitaan Willy. Terasa seluruh kontolnya digenggam erat oleh memek Willy.
“Ahhkkk..! Tekan Ga, tekan yang keras..!” rengek Willy sambil menggigit bibirnya.
“Kayak gini bukan?” lalu Angga menghentakkan pantatnya ke depan, sehingga mulut memek Willy terdorong dengan keras.
“Oughh..” teriak Angga.
“Aaahhkkk..! Gila Ga..! Lagi Ga..!” rintih Willy merasakan nikmat.

Angga lalu menarik kontolnya, memek Willy terlihat monyong. Setelah tertarik setengah didorongnya lagi pantatnya seperti tadi.
“Aaahkkkk..!” bersamaan mereka berteriak.

Angga lalu memaju-mundurkan pantatnya. ia menarik sampai sekitar 50 persen panjangnya, lalu menekan lagi hingga masuk semuanya. Angga terus melakukan itu. Sementara itu Willy tetap merancau tak karuan. Sedangkan Angga lebih banyak diam.

“Aahhkk.. Angga.. enaak.. hiks.. hiks.. hikss ooohh..”
“Yaahh.. tusuk yang keras.. hmm.. Oughh.. yaa.. terus Ga..”
“Sshhh.. ssshhh.. oughh.. enak Ga, terus.. terus.. tarik dorong yang keras Ga..!”
“Oougghh.. oh.. oh.. oh.. oh..” Willy terus menjerit-jerit. Memeknya menjepit keras kontol Angga.
“Ough.. terus Ga..!” Willy menggelepar-gelepar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Lubang memek Willy semakin basah, dan meremas-remas batang kemaluan Angga.
“Uhh.. hu.. hu.. huu..” terdengar suara Willy seperti merintih, menahan nikmatnya sodokan kontol Angga. Willy makin membuka kakinya. Ditariknya kakinya ke atas, sehingga lututnya menyentuh dadanya. Hal ini membuat Angga makin leluasa memasukkan kontolnya.

“Ga.. bentar lagi Ga.. aku mau dapat.!” teriak Willy ketika merasakan orgasmenya akan datang, rongga kewanitaannya menjadi lebih berdenyut, seperti menggigit lembut kontol Angga. Willy menaikkan pantatnya agar kontol Angga makin dalam mengisi memeknya.

“Ouughhh… Ga.. hiks.. hiks.. hu.. hu..” Willy kembali merintih kenikmatan. Kedua tangannya meremas-remas pundak Angga.

Sesaat sebelum Willy mencapai orgasme. Angga tiba-tiba merenggut pantat Willy, mencengkeramnya. Dihentak-hentakkan pantatnya ke bawah lebih cepat. Hal ini membuat gesekan antara kontol dan rongga memek makin cepat. Angga terus melakukannya hingga pada hentakan terakhir ditekannya pantat lama sekali ke bawah.

Willy merasakan senjata Angga semakin besar, memek Willy terasa semakin penuh, Angga mencapai orgasmenya.
“Ooouughh..” lenguh Angga.

Willy merasakan ada tembakan hangat di dalam ujung memeknya. Lembut dan mesra. Semprotannya kencang sekali dan berkali-kali. Kira-kira tujuh atau delapan tembakan, badan Angga mengejang, dan lalu lemas, lunglai, jatuh ke depan, menindih Willy.

Angga lalu mencium bibir Willy.

“Terima kasih Will..”
Willy mencium balik. Mereka berpagutan beberapa saat. Tubuh mereka berkeringat, basah sekali.

Setelah agak lama Angga menjauhkan bibirnya dan mencabut kontolnya. Terdengar bunyi, “Plop..!” ketika kedua alat kenikmatan itu dipisahkan.

“Kamu aktris berbakat Will..! kamu akan dapat peran di film itu, tetapi bukan sebagai peran utama. Kamu jadi teman SMA si pemeran utama,” kata Angga sambil memakai celananya.
“Lhoo..! Ngga.. katamu..” belum selesai Willy bicara Angga sudah bicara.
“Aku memang bilang kamu akan dapat peran. Tetapi aku tak bilang kalau itu peran utama. Kalau tak mau ya udah. Kalau mau peran utama, nanti tunggu film yang baru lagi, kamu casting lagi sama saya. Kita lihat kamu serius tak menjalani kariermu.”

“Sekarang kamu mau nggak peran tadi?” lanjut Angga bertanya.
“Mau dong, tetapi kiraiinn.!”
“Mau nggak?” tanya Angga lagi.
“Iya.. iya.. mau..!” jawab Willy sambil memakai bajunya.

Wawancara pun selesai, Willy pergi meninggalkan ruangan dan kehidupan di kantor sang manajer berlangsung lagi seperti biasa.

<center>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*